Dark/Light Mode

Siapa Orang Tajir Mendadak Ke Pasar?

Sandiaga: Mungkin Yang Dimaksud Bukan Saya

Senin, 26 November 2018 09:29 WIB
Cawapres 02 Sandiaga Uno blusukan ke Pasar Lumajang, Jawa Timur. Ia menemukan pisang agung khas Lumajang, yang ukurannya seberat barbel. (Foto: IG @sandiuno)
Cawapres 02 Sandiaga Uno blusukan ke Pasar Lumajang, Jawa Timur. Ia menemukan pisang agung khas Lumajang, yang ukurannya seberat barbel. (Foto: IG @sandiuno)

RM.id  Rakyat Merdeka - Cawapres 02 Sandiaga Uno memastikan blusukannya ke pasar tradisional bukanlah pencitraan. Apalagi, bertujuan menggoreng isu harga kebutuhan pokok. Sandi juga nggak merasa sebagai orang tajir yang mendadak ke pasar.

Cawapres 02 ini memang jadi salah satu kontestan yang rajin datang ke pasar. Dari mulut Sandi juga, kerap terlontar soal harga pangan yang terbilang mahal. Kritikan Sandi pun kerap ditanggapi capres petahana Jokowi. Dia pun rajin datang ke pasar dan cek harga. Terbaru, Jokowi sebut ada orang tajir yang mendadak rajin ke pasar, dan goreng isu harga naik. “Mungkin yang dimaksud bukan saya,” jawab Sandi saat mengunjungi Pasar Baru Lumajang, Minggu (25/11).

Baca juga : Komisioner KPK: Rasa-rasanya Nggak Mungkin Dari Kantong Pribadi

Sandi pun menegaskan, isu harga tinggi di pasar bukan pendapat pribadinya. Info itu dia dapat dari pedagang dan pembeli, yang ditemuinya di pasar saat berkunjung. “Seperti hari ini di pasar Lumajang. Ibu Lulu dan Ibu Lina. Harga sayur-mayur memang naik turun. Kacang panjang yang kemarin Rp 3.000, sekarang Rp 4.000. Begitu juga dengan Pak Aris, pedagang tempe yang dibungkus pelepah pisang. Hari ini harga tempenya naik Rp 1.000,” jelas mantan Wagub DKI ini.

Sandi menegaskan, hubungannya dengan pasar tradisional, bukanlah hal yang baru. Bukan saat pilpres saja. Dia sudah 3 tahun menjadi Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia ( APPSI). Jadi, menurutnya, blusukan itu sudah menjadi tugasnya sebagai mitra pemerintah. Memantau harga-harga di pasar.

Baca juga : Umroh 2 Hari, Tito Diserang Hoaks

Sandi pun membantah bila aktivitas keluar-masuk pasarnya dianggap pencitraan. Dia mengaku ingin mendengar aspirasi langsung dari para pedagang. “Belanja ke pasar itu tugas orang rumah saya. Kalau saya belanja di pasar, itu namanya pencitraan," papar Sandi.

Seperti diketahui, saat blusukan di daerah Lampung pada Sabtu lalu (24/11), Jokowi sempat membantah isu mahalnya harga komoditas pangan di pasar. Lantas, Jokowi menyindir ada pihak yang sengaja menggoreng isu kenaikan harga pangan. “Orang nggak pernah ke pasar, nongol-nongol ke pasar, keluarnya ngomong mahal. Nggak pernah ke pasar. Nggak mungkin orang super kaya datang tahu- tahu datang ke pasar, nggak mungkin lah. Datang ke pasar, nggak beli apa-apa, pas keluar bilang ‘mahal, mahal, mahal’. Haduuh,” sindir Jokowi.

Baca juga : KH Maruf Amin: "Wiro Sableng" Wassalam

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio punya alasan, terkait "politik pasar". Selama ini, baik Jokowi maupun Sandi menjadikan pasar sebagai titik kampanye. Kenapa pasar? Menurutnya, dijadikannya pasar sebagai titik kampanye tak lepas dari masalah ekonomi. Pasar dianggap simbol ekonomi rakyat.

"Baik Pak Jokowi maupun Mas Sandi, ingin menggarisbawahi bahwa ada kondisi ekonomi yang harus digambarkan situasinya. Paling enak memang menggambarkan situasi ekonomi itu dari pasar,” paparnya. [MHS]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.