Dark/Light Mode

Ogah Pusing Sama Jatah Menteri

PAN Malu Atau  Mupeng Nih....

Selasa, 13 April 2021 08:20 WIB
Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno. (Foto: Facebook/MohEddySoeparno)
Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno. (Foto: Facebook/MohEddySoeparno)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Amanat Nasional (PAN) tidak ambil pusing denganramalan peluang mendapatkan jatah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bila terjadi perombakan kabinet.

“He..He..He.. Au ah gelap,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dikatakannya, PAN saat ini tengah sibuk merapihkan struktur kepengurusan, membantu masyarakat melawan pandemi Covid-19, sampai memantau kader partai membantu korban yang terkendala musibah bencana alam.

Berita Terkait : Jadi Menristek Terakhir, Bambang Brodjonegoro Sedih

Seperti diketahui, DPR telah menyetujui peleburan dua kementerian baru usulan pemerintah. Yaitu, penggabungan antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek). Selain itu, pemerintah mengusulkan pembentukan Kementerian Investasi.

Dengan kondisi itu, ada pos kosong di dua kementerian ini. PAN selaku partai yang mengklaim sebagai mitra kritis pemerintah diprediksi bakal mendapatkan posisi ini ketika terjadi perombakan kabinet jilid dua. Prediksi ini disampaikan Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (SUDRA), Fadli Harahab.

“Paling berpeluang dari parpol itu PAN, dan dari profesional bisa Muhammadiyah,” ujar Fadli di Jakarta, kemarin.

Berita Terkait : Hasto: Reshuffle Kabinet Murni Hak Prerogatif Presiden

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menganalisa, bila Presiden Joko Widodo mengambil skenario politik yang disebutnya pencopotan, maka PAN berpeluang mengisi posisi kosong kabinet ini. Tapi, kalau yang dipilih opsi pergeseran posisi, PAN tidak kebagian.

Bila yang dipilih opsi pergeseran posisi, bisa jadi tidak ada pergantian menteri. Menristekdikti Bambang Brojonegoro bisa saja mengisi posisi Menteri Investasi, dan Nadiem Makariem menjabat Mendikbud sekaligus Ristekdikti.

Vokalis PAN di DPR, Saleh Partaonan Daulay justru mengkritisi langkah pemerintah menggabungkan kembali Kemristek dengan Kemendikbud. Menurutnya, dua kementerian ini memang dulunya satu dan dipisah atas nama efektivitas.

Berita Terkait : Kemenristek Dan Kemendikbud Dilebur, Menteri Bambang Brodjonegoro Pamit

“Sebab dulu Kemenristek adanya di Kemendikbud. Tapi pada periode belakangan ini dijadikan sebagai kementerian berdiri sendiri dan sekarang dikembalikan ke Kemendikbud,” ujar Saleh di Jakarta, kemarin.

Ketua Fraksi PAN di DPR itu khawatir, kebijakan itu akan membuat masyarakat heran. Pasalnya, Kemenristek belum terlihat hasil kinerjanya, terutama di bidang inovasi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dia menilai, kalau Kemendikbud dan Kemenristek digabung, tidak efektif. Karena akan membuat dari sisi anggaran semakin kecil. “Tentu, ini akan menimbulkan persoalan tersendiri,” katanya. [BSH]