Dark/Light Mode

PDIP Tak Akan Kawin Dengan Demokrat & PKS

Hasto: Jangan Jodoh-jodohin

Sabtu, 29 Mei 2021 07:59 WIB
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (Foto: Dok. PDIP)
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (Foto: Dok. PDIP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hubungan PDIP dengan Partai Demokrat dan PKS sudah seperti minyak dan air. Tak bisa disatukan. Pandangan mereka selalu berlawanan. Karena kondisi ini, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memberi peringatan, jangan coba-coba jodohkan banteng dengan kedua partai itu. PDIP tak sudi kawin dengan Demokrat dan PKS.

Hasto terang-terangan menyampaikan hal itu dalam diskusi daring yang digelar Para Syndicate, kemarin. Selain Hasto, ada juga Sekjen PAN Eddy Soeparno sebagai narasumber. Di luar parpol, ada peneliti senior CSIS J Kristiadi. Judul diskusinya, "Membaca Dinamika Partai dan Soliditas Koalisi Menuju 2024".

Hasto menerangkan, adanya garis pemisah antara PDIP dengan Demokrat dan PKS bukan karena pihaknya sok-sokan dan enggan berkolaborasi. Dia mengklaim, semangat gotong royong dengan berbagai pihak terus digelorakan. Apalagi di tengah kondisi sulit akibat pandemi Covid-19. Pihak terbukti bisa kolaborasi dengan PAN, PKB, PPP, sampai dengan Gerindra, yang pernah menjadi musuh di dua kali pemilu.

Namun, untuk dengan PKS, pihaknya susah bareng-bareng. Sebab, ideologi dan cita-cita yang diperjuangkan berbeda jauh. "Itu saya tegaskan sejak awal," tegasnya.

Dengan Demokrat, PDIP juga tak punya kecocokan. Karena, Hasto menganggap Demokrat sebagai partai elektoral,  sementara PDIP partai ideologi.

Soal ini, Hasto mengaku sengaja blak-blakan. Agar tidak ada lagi mak comblang yang berusaha menjodoh-jodohkan partainya dengan Demokrat atau PKS.

"Ini tegas-tegas saja. Supaya tidak ada juru nikah yang ingin mempertemukan hal tersebut. Karena beda karakternya, beda nature-nya," tegasnya.

Mendengar ini, Ketua Bapilu Partai Demokrat Andi Arief panas. Dia menegaskan, partainya tidak mau berkoalisi dengan PDIP. Menurut Andi Arief, jika Demokrat berkoalisi dengan PDIP, sama saja dengan bunuh diri politik.

"Menjelang 2024 ini, Partai Demokrat, seperti juga partai lain, juga sedang memikirkan koalisi politik untuk pilpres. Di tengah ketidakpuasan atas pemerintah yang sudah meluas, tentu kerugian besar jika Demokrat ikut dalam koalisi PDIP. Sama juga dengan bunuh diri politik. Kami memilih cara dengan cermat dan menghitung banyak aspek," ujarnya, kemarin.

Sementara Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera lebih santai. Dia tidak masalah jika partainya disebut tidak cocok dengan PDIP. Justru, omongan Hasto dianggap bagus untuk memacu adrenalin kadernya. Menurutnya kontestasi 2024 bukan sekedar pertarungan dalam kerangka ideologis, akan tetapi kompetisi karya dan gagasan.

"Dengan sikap #KamiOposisi yang kokoh, insya Allah PKS dapat menjadi partai alternatif," kata Mardani, kepada wartawan, kemarin.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia Maswadi Rauf melihat, tidak cocoknya antara PDIP dengan Demokrat menunjukkan bahwa permusuhan antara SBY dan Megawati belum selesai. "Itu tidak sehat untuk perkembangan partai politik," kata Maswadi, kemarin.

Sementara ketidakcocokan dengan PKS, menurutnya, dipicu sikap partai yang konsisten di jalur oposisi. Maswandi berpandangan, tidak ada sambungannya jika ideologi Islam yang diusung PKS, jadi biang kerok ketidakcocokan dengan PDIP. Sebab partai banteng itu juga diperkuat tokoh-tokoh Islam. "Orang di situ (PDIP) ada Baitul Muslimin kok," sebutnya. [SAR]