Dark/Light Mode

Bima Arya: Peta Koalisi Bukan Cuma Urusan Ketum

Kemungkinan PAN Lompat Pagar Ramai Di Grup WA

Sabtu, 27 April 2019 06:55 WIB
Ketua Harian Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin, Moeldoko di kantor DPP Projo, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (22/4). (Foto: Istimewa).
Ketua Harian Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin, Moeldoko di kantor DPP Projo, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (22/4). (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Internal PAN mulai terbelah menyikapi arah koalisi ke depan. Ada yang ingin tetap bertahan di Koalisi Indonesia Adil dan Makmur. Tapi ada juga yang mulai berpikir untuk keluar dan gabung bersama PDIP cs.

Adalah Waketum Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya yang membeberkan kondisi tersebut. Hanya perpecahan pandangan itu, diakui Bima masih sebatas perdebatan di grup What’s App kader PAN.

“Baru di grup WhatsApp. Ada yang memilih tetap di 02, ada juga wacana untuk yang membuka segala kemungkinan. Itu biasa di WhatsApp grup,” ujar Bima Arya saat ditemui di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (26/4).

Wali Kota Bogor ini mengatakan, pandangan kader terkait peta koalisi merupakan hal yang wajar. Namun, pandangan itu belum bisa dijadikan sikap resmi partai. Semua pendapat akan diputuskan melalui mekanisme yang ada.

Baca juga : Kementerian BUMN Permak Pabrik Gula

“Ini bukan urusan perorangan, bukan urusan ketum, bukan Bima Arya tapi urusan partai,” tegasnya. Bima pun mengapresiasi komunikasi yang telah dibangun Ketum PAN Zulkifli Hasan dengan Presiden Jokowi.

Dia memprediksi, komunikasi itu bukanlah terakhir. Tapi akan ada komunikasi-komunikasi lanjutan lagi.

“Pasti ada arah ke depan. Tidak mungkin ketika pemimpin berbicara itu tidak ada, itu pasti. Tapi apakah ada pembicaraan merapat ke sana sini saya belum tahu,” kata Bima.

Ketua Harian TKN Jenderal (Purn) TNI Moeldoko mengatakan, partai yang dinahkodai Zulkifli Hasan sangat terbuka untuk gabung bersama Koalisi Indonesia Kerja (KIK).

Baca juga : Ditanya Pertemuannya Dengan Zul, Jokowi Tertawa Terbahak-bahak

Menurutnya, politik itu dinamis dan tidak ada yang stagnan. “Pertemuan tersebut baru tahapan pertama,” ujarnya.

Moeldoko mempersilakan publik mengamati kelanjutan pertemuan tersebut. Dia pun menyebut sangat mungkin PAN berkoalisi dengan parpol koalisi Jokowi.

“Kemungkinan ya bisa, sangat mungkin (PAN berkoalisi dengan parpol Jokowi),” ujarnya.

Moeldoko tidak khawatir dengan gabungnya PAN. Menurutnya, pemerintahan di dunia menginginkan sebuah pemerintahan yang stabil dan kuat. Termasuk kemungkinan kursi di parlemen diisi parpol koalisi pendukung Jokowi.

Baca juga : Prof Romli: Prabowo Melanggar UUD 45

“Pemerintahan yang kuat itu sangat didukung oleh lembaga-lembaga lain. Dengan kekuatan yang ada sekarang, bisa saja politik bersifat dinamis. Bisa saja 60 persen, bisa 70 persen, bisa 80 persen kursi DPR,” kata Kepala Staf Kepresidenan ini.

Sementara itu, Sekjen PAN Eddy Soeparno membantah komunikasi antara ketua umumnya dan Jokowi terkait arah koalisi. Dia memastikan, PAN akan tetap konsisten dalam mendukung Prabowo-Sandi, dan tidak akan keluar dari koalisi.

“Kita tetap konsisten berada di koalisi Adil Makmur,” kata Eddy. Seperti diketahui, Zulkifli Hasan sempat berbincang serius dengan Presiden Jokowi di Istana Negara pada Rabu (24/4) lalu.

Dalam perbincangan itu, Zul mengaku banyak membahas berbagai hal dengan presiden. Termasuk urusan politik dan Pemilu 2019. Pertemuan ini kemudian menimbulkan rumor, PAN akan gabung dalam koalisi Jokowi. [MHS]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.