Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Hati-hati dengan isu narkotika dan obat-obat berbahaya (Narkoba) yang terasosiasi dengan kandidat yang sedang berkontestasi di Pilkada.
Jika isu tersebut diketahui mayoritas pemilih, termasuk di Jambi, sangat potensial merontokan elektabilitas.
Demikian analisis yang disampaikan Founder CiGMark Research, Setia Darma kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (16/10/2024).
Ia diminta pendapatnya seputar aneka faktor yang potensial bisa menaikan dan menurunkan elektabilitas kandidat, khususnya pada Pilkada Jambi November 2024 mendatang.
Baca juga : Kampanye Negatif Bisa Rontokkan Elektabilitas Kandidat Kepala Daerah di Pilkada
Menurut Darma, dari pengalamannya melakukan tracking survei di sejumlah daerah, banyak kasus seorang kandidat yang tiba-tiba naik dan tiba-tiba turun elektabilitasnya.
Kandidat yang naik, selain karena faktor aneka programnya yang masif dan disukai publik, juga karena faktor adanya limpahan berkah dari kerontokan lawannya.
Kenapa rontok? Darma menjelaskan, salah satunya, karena kandidat yang menjadi lawannya kena tsunami politik.
Yaitu, terjerat sejumlah kasus moral seperti judi, korupsi dan narkoba. Dalam kontek Pilkada Jambi, kata Darma, para kandidat yang berkontestasi harus waspada terhadap sejumlah isu tersebut.
Baca juga : Survei GRC: Rudy-Seno Kalahkan Isran-Hadi Di Pilgub Kaltim
Sebab, jika isu tersebut faktual dan diketahui banyak orang, efeknya sangat potensial merontokkan elektabilitas.
“Dan jika seorang kandidat rontok karena terlibat kasus-kasus diatas, maka otomatis penerima limpahan berkahnya adalah kompetitornya. Apalagi, jika kontestasi itu hanya diikuti oleh dua pasang calon,” ungkapnya.
Meskipun, kata Darma, dalam teori isu negatif di Pilkada, rumusnya, seberapa orang tahu dan seberapa orang percaya.
Jika isu negatif tersebut hanya beredar di kalangan elit saja, sudah pasti tak akan memberi banyak pengaruh buruk secara elektoral.
Baca juga : Isu Keterlibatan Kepala Desa di Pilkada Garut Jangan Digeneralisir
“Jadi, rumusnya, harus banyak orang yang tahu. Dan setelah tahu, orang itu percaya. Jika terpenuhi syarat tersebut, dipastikan, kandidat yang terkena kasus itu akan rontok elektabilitasnya,” tegasnya.
Saat ditanya, apakah para kandidat yang berkontestasi di Pilgub Jambi ada yang terkena isu-isu negatif tersebut, Darma mengaku tidak tahu.
Menurut dia, warga yang cerdas seharusnya terpanggil mencari tahu kasus-kasus negatif setiap kandidat, agar calon pemimpin yang akan dipilihnya nanti itu benar-benar berkualitas.
“Upayakan, sisi-sisi negatif para kandidat itu diketahui dari jauh hari oleh warga. Jangan sampai setelah terpilih, rakyat baru tahu, kalau pemimpin yang sudah dipilihnya itu ternyata pengguna narkoba, atau suka bermain judi dan lain-lain,” tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya