Dewan Pers

Dark/Light Mode

Direktur Eksekutif CORE Indonesia M Faisal

2023, Nasib Ekonomi RI Tergantung Kekuatan Investasi, Inflasi Diramal Jinak

Selasa, 3 Januari 2023 13:35 WIB
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal (Foto: Istimewa)
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lolos dari tahun brutal 2022, Indonesia berhasil mencetak rapor dengan angka yang cukup baik. Cukup jadi modal untuk menapaki tahun 2023, yang disebut-sebut menjadi tahun ujian, penuh kewaspadaan.

Ekonomi di Triwulan III 2022 tumbuh impresif 5,72 persen. Indeks bursa naik 4,1 persen. Market cap, kapitalisasi pasar juga tumbuh 15 persen, sampai di angka Rp 9.499 triliun. Bahkan, Pemberlakuan Pembatasan Kebijakan Masyarakat (PPKM) pun telah dicabut pada 30 Desember 2022. Sehari sebelum menutup tahun.

Presiden Jokowi berharap, pencabutan itu bisa menjadi trigger penguatan ekonomi. Tetap tumbuh di atas 5 persen. 

Apakah betul pencabutan PPKM bisa mendorong penguatan ekonomi? Seperti apa kesiapan Indonesia memasuki tahun 2023 yang penuh tantangan? Di tengah bayang inflasi, resesi, dan tuntutan pemulihan ekonomi?

Simak penjelasan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal kepada wartawan RM.id, Dwi Ilhami.

Per 30 Desember 2022, pemerintah telah resmi mencabut PPKM. Dari situasi pandemi, kita berangsur memasuki endemi. Bagaimana CORE memandang ini? Apakah pencabutan ini bisa menjadi sinyal positif bagi kebangkitan ekonomi Indonesia? 

Begini. Sebelum resmi dicabut, seluruh wilayah Indonesia sudah menerapkan PPKM yang paling rendah tingkatannya, PPKM Level 1. 

Level itu terbukti tidak mengganggu mobilitas masyarakat. Ekonomi terus bergerak. Buktinya, ekonomi di kuartal III 2022 bisa tumbuh 5,72 persen. 

Berita Terkait : Bahlil: Pertumbuhan Ekonomi RI Tak Lagi Andalkan Sektor Konsumsi, Investasi Naik Hampir 30 Persen

Pencabutan PPKM, cenderung akan meneruskan tren sebelumnya saja, meski konsumsi akan lebih tinggi ketimbang saat sebelum pandemi. Masyarakat sudah hampir pulih aktivitasnya. Ini meningkatkan level of confidence dunia usaha. Setidaknya, upaya ini akan semakin mendorong percepatan pemulihan ekonomi.

Apakah dari modal awal memasuki 2023 ini, Indonesia punya kans kuat untuk mencetak pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, sesuai harapan Presiden?

Tentu, Indonesia sangat punya kans besar. Berkaca dari yang terjadi selama pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi nasional terus membaik.

Tak salah pemerintah memiliki target di atas 5 persen, meski CORE meramalnya di kisaran 4,5-5 persen. Tapi, ini harus terukur.

Ekonomi Indonesia akan bergantung pada konsumsi domestik, yang diperkirakan akan membaik seiring meredanya pandemi. Dari sisi ekspor, juga masih akan terbantu dengan tingginya harga komoditas.

Kondisi ekonomi dan peluang pasar modal Indonesia pada 2023, masih positif. Kami prediksikan, sudah kembali ke kondisi pra pandemi. 

Investasi memainkan peran yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi, dan tidak akan banyak terganggu oleh tekanan global. 

Sektor apa yang kira-kira cepat pulih, setelah pencabutan PPKM ini?

Berita Terkait : Erick Yakin, RI Bisa Jadi Ekonomi Keempat Terbesar Dunia, Ini 4 Kuncinya...

Yang pemulihannya paling cepat adalah sektor pariwisata. Di Kuartal III 2022 saja, industri pariwisata rata-rata tumbuh di atas 10 persen. Tahun lalu, sektor ini juga sudah menyiapkan berbagai investasi, dan tahun ini mulai merealisasikannya.

Apa yang perlu dilakukan pemerintah, agar sektor-sektor potensial bisa segera pulih? 

Saya kira, perlu ditambah insentif-insentif di sektor pariwisata, UMKM, dan sektor lainnya. Karena ini tak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menekan inflasi Indonesia, yang masih cukup tinggi di level 5,42 persen pada November 2022.

Dari sisi kesehatan, saya berharap, infrastruktur kesehatan bisa lebih siap, dibanding masa sebelum pandemi Covid-19. Sehingga, bisa lebih cepat tanggap, bila sewaktu-waktu terjadi lonjakan kasus Covid.

Bagaimana dengan potensi inflasi dan resesi di tahun 2023? Apakah kita sudah cukup siap menghadapi itu? Apa yang harus kita lakukan, agar kita bisa selamat?

Inflasi tampaknya akan meningkat pada kisaran 2-3 persen. Jauh lebih rendah dibanding tahun 2022, yang diperkirakan mencapai 5-6 persen.

Laju inflasi memang masih menekan daya beli masyarakat berpendapatan rendah, namun tidak akan banyak mempengaruhi konsumsi secara agregat.

Kabar baiknya, kinerja investasi pada tahun depan, diproyeksi menguat. Bisa kembali menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi terbesar kedua.

Berita Terkait : Jajaki Investasi Transportasi Listrik Di Jatim

Selama pandemi Covid-19, kinerja investasi kan mengalami penurunan. Sementara kinerja ekspor, yang banyak dipicu oleh kenaikan harga komoditas di pasar global, naik signifikan.

Kita tetap optimis, karena konsumsi rumah tangga masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada 2023. Meski masih terdapat potensi pelambatan ekonomi akibat tekanan global.

Bagaimana dengan pasar modal kita, apakah investor yang didominasi anak muda (55 persen < 30 th, 70 persen < 40 tahun) bisa menjadi kabar baik bagi kita?

Saya rasa itu bagus,  karena lebih dari 50 persen didominasi anak muda. Artinya, mereka sudah mulai melek investasi sejak dini. Namun tetap saja, anak muda di usia tersebut juga harus waspada dan hati-hati dalam mengelola investasi. Jangan salah memilih instrumen.

Fenomena ini akan menjadi modal yang baik bagi ekonomi Tanah Air, karena pelaku keuangan di pasar modal juga bisa menentukan arah investasi dan ekonomi bangsa. ***