Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Bangun 29 Bendungan, Waskita Karya Perkuat Ketahanan Pangan Dan Ekonomi Daerah
- Terima Ancaman Bom, SDN Srengseng Sawah 15 Jaksel Disisir Densus 88
- TikTok Perkuat Transparansi dan Literasi Konten Buatan AI
- PGN Sebut Jaringan Gas Sumatera Makin Kuat, Investor Diajak Lihat Langsung
- Disebut sebagai Sahabat, Kapolri Panggil Jaksa Agung Kakak Asuh
Filep Dorong Percepatan Pengadaan Reagen EID untuk Bayi di Papua Barat
Senin, 13 Juli 2026 12:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Komite III DPD RI Filep Wamafma meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat pengadaan reagen pemeriksaan early infant diagnosis (EID) untuk mendukung layanan deteksi dini HIV pada bayi di Papua Barat.
Menurutnya, ketersediaan reagen diperlukan agar pemeriksaan terhadap sampel yang telah terkumpul dapat segera dilakukan.
Menurut Filep, pemeriksaan EID berperan penting dalam mendeteksi infeksi HIV pada bayi yang lahir dari ibu dengan HIV sehingga penanganan dapat diberikan sedini mungkin.
"Pemeriksaan EID sangat penting supaya bayi yang terinfeksi memperoleh terapi antiretroviral. Kami berharap Kemenkes dapat mempercepat pengadaan reagen untuk Papua Barat," kata Filep dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).
Ia menjelaskan, keterlambatan pemeriksaan dapat mempengaruhi upaya penanganan dini. Berdasarkan informasi yang diterimanya, sampel darah bayi dari Papua Barat yang telah dikumpulkan sejak akhir November 2025 masih menunggu pemeriksaan karena reagen belum tersedia.
Baca juga : Senator Filep Dorong Pengesahan RUU Perampasan Aset
Pemeriksaan EID dilakukan terhadap bayi berusia satu hingga 18 bulan yang lahir dari ibu dengan HIV menggunakan metode dried blood spot (DBS), yakni pengambilan sampel darah dari tumit bayi yang kemudian dikirim ke laboratorium rujukan.
"Deteksi dini sangat penting karena akan menentukan penanganan serta meningkatkan peluang bayi memperoleh kualitas hidup yang lebih baik," jelasnya.
Filep mengatakan, keterlambatan distribusi reagen terjadi karena proses pengadaan yang dilakukan secara terpusat di Kemenkes masih berlangsung.
Kondisi tersebut, menurutnya, tidak hanya terjadi di Papua Barat, tetapi juga di sejumlah provinsi lain. Selama ini, sampel EID dari Papua Barat dikirim ke laboratorium rujukan di Jakarta.
Sementara itu, laboratorium di Sorong dan Jayapura yang memiliki fasilitas pemeriksaan juga mengalami keterbatasan reagen.
Baca juga : Curi Perhatian! Kekompakan 5 Pimpinan Lembaga Di Hari Koperasi
"Pengadaan dilakukan secara terpusat dan prosesnya belum selesai. Sementara sampel yang telah terkumpul masih menunggu pemeriksaan," kata Filep.
Ia berharap, kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi agar proses perencanaan dan pengadaan kebutuhan laboratorium ke depan berjalan lebih baik serta tidak menghambat pelayanan kesehatan.
Selain itu, Filep mendorong adanya penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk membuka peluang kerja sama dengan laboratorium yang telah memiliki fasilitas pemeriksaan.
"Daerah saat ini belum memiliki kewenangan dalam pengadaan karena seluruh proses dilakukan secara terpusat," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, dr. Alwan Rimosan, membenarkan adanya keterlambatan pemeriksaan EID akibat belum tersedianya reagen dari pengadaan pemerintah pusat.
Baca juga : KPK Dorong Penguatan Tata Kelola dan Budaya Antikorupsi di PT Pos Indonesia
Meski demikian, ia memastikan layanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak tetap berjalan. Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV tetap memperoleh tata laksana sesuai pedoman, termasuk pemberian profilaksis dan pemantauan klinis.
"Memang benar terjadi keterlambatan pelayanan pemeriksaan EID karena reagen belum tersedia. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Papua Barat, tetapi juga di sejumlah provinsi lainnya," kata Alwan.
Ia menambahkan, Dinas Kesehatan Papua Barat terus berkoordinasi dengan Kemenkes agar distribusi reagen dapat segera dilakukan sehingga pemeriksaan sampel yang tertunda dapat segera ditindaklanjuti.
"Kami berkomitmen memastikan tidak ada bayi yang kehilangan kesempatan memperoleh diagnosis dan pengobatan sedini mungkin. Keselamatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas utama," tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya