Dark/Light Mode

Lulus Dari Tes Kehebohan

Minggu, 8 Desember 2024 05:51 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah sudah melandai dan nyaris selesai. Pengunduran dirinya sebagai Utusan Khusus Presiden mengakhiri kehebohan sepekan terakhir. Selanjutnya, kita akan sambut kasus-kasus heboh berikutnya.

Apakah selalu begitu siklusnya? Muncul tiba-tiba, menghentak, heboh senegara, meredup, hilang, kemudian selesai, ditutup oleh kasus baru.

Orang bijak mengatakan, “kita harus belajar dari pengalaman dan sejarah”. Tapi, seringkali, sejarah mengajarkan: kita tak pernah belajar.

Lihat, bagaimana kasus-kasus berulang. Bahkan kasus-kasus besar, seperti korupsi puluhan bahkan ratusan triliun, seperti tak menyisakan jejak dan pelajaran penting. Datang dan pergi. Tak membuahkan perubahan berarti. Hanya heboh seminggu dua minggu.

Kita ambil contoh bagaimana Inggris dan sepakbola dunia belajar serius, kemudian berubah total setelah Tragedi Heysel dan Tragedi Hillsborough. Dua kejadian itu hanya berselang beberapa tahun.

Baca juga : Olok-olok Jepang Dan Indonesia

Tragedi Hillsborough menyebabkan 96 orang meninggal. Kejadiannya saat laga Liga Inggris antara Liverpool kontra Nottingham Forest, 15 April 1989.

Sejak tragedi itu, ada penyelidikan dan riset serius untuk menghasilkan perbaikan. Hasilnya, manajemen pertandingan sepakbola, termasuk keamanan stadion berubah total.

Sekarang kita tahu, sepakbola Inggris menjadi kompetisi nomor satu di dunia dari segi industri maupun entertainmen.

Begitulah sejatinya “belajar dari sejarah atau belajar dari pengalaman”. Bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan sejarah kasus-kasus heboh serta pengalaman tragis.

Sayangnya, pelajaran yang dipetik belum optimal. Lebih dominan heboh dan dramanya, di dunia maya maupun dunia nyata. Pengunduran diri dan ditersangkakannya seorang tokoh dalam kasus korupsi misalnya, dianggap sebagai puncaknya.

Baca juga : Gercep-Gaspol Cegah Kebocoran

Setidaknya, ada dua yang dibutuhkan rakyat. Pertama, penuntasan kasusnya secara serius, adil, transparan, konsisten dan menyeluruh. Termasuk kasus-kasus hukum seperti korupsi.

Kedua, dari kasus-kasus tersebut, kita belajar, lalu ada perubahan dan perbaikan signifikan, sistematis dan menyeluruh.

Dengan demikian, targetnya bukan sekadar supaya kasusnya tidak berulang, pengunduran diri atau mentersangkakan satu atau dua orang, melainkan ada perbaikan penting. Ada perubahan positif dan signifikan secara sistemik dalam tatanan berbangsa, bernegara serta pemerintahan.

Dalam artian, kita tidak hanya sekadar “belajar sambil lalu dari sejarah dan pengalaman”, tapi juga bisa naik kelas dan lulus. Lulus memuaskan, terhormat, summa cum laude, dari setiap kasus dan kehebohan yang telah menyita perhatian dan energi bangsa.

Sekarang, kita mengucapkan selamat tinggal kepada kasus yang mengguncang negeri, namun, kita juga mengucapkan selamat datang kasus-kasus berikutnya yang tak kalah heboh.

Baca juga : Kejenuhan Politik Atau Demokrasi?

Pertanyaannya: apakah bangsa ini sudah belajar serius dari rangkaian kasus, termasuk kasus-kasus korupsi yang heboh itu? Apakah bangsa ini bisa lulus, berubah lebih baik, lebih maju dan lebih beradab sehingga kehebohan itu menjadi produktif?

Pengalaman dan sejarah mengajarkan: bangsa ini jangan sekadar (puas) disuguhi kehebohan dan drama.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Minggu, 8 Desember 2024 dengan judul "Lulus Dari Tes Kehebohan"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.