Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
Sebelumnya
Begitu pula di Singapura, ketika Lee Kuan Yew mengusut menteri-menterinya, termasuk sahabat dekatnya sendiri. Salah satu yang dikenang yakni ketika Menteri National Development Teh Cheang Wan diselidiki karena dituding menerima suap dari dua pengembang properti. Integritas negara, kata Lee, lebih tinggi dari pertemanan.
Indonesia kaya akan contoh keteladanan serupa. Ada Jenderal Soedirman. Ada pula Jenderal Hoegeng. Contoh lainnya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Termasuk juga Hakim Agung Artidjo Alkostar.
Baca juga : Ujian Terakhir Penjaga Gerbang
Mereka semua membuktikan satu hal: hukum dan etika harus berdiri di atas segalanya. Di atas kepentingan pribadi, keluarga, atau partai politik.
Dari beragam keteladanan itu, pesannya tidak berubah dari masa ke masa: tidak ada impunitas. Tidak ada kekebalan. Hukum harus ditegakkan dengan adil, tegas, dan transparan. Tanpa pandang bulu.
Baca juga : Bertindak Atau Binasa
Kalaupun nanti ada tindakan hukum terhadap “kawan-kawan sendiri” maka langkah ini layak disebut legacy. Warisan kepemimpinan yang tidak sekadar diceritakan, tetapi menjadi standar bagi generasi dan pemimpin berikutnya. Indonesia merindukan dan membutuhkan standar itu.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 7 Desember 2025 dengan judul "Hukum Di Atas Kawan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.