Dark/Light Mode

Awal Tanpa Gegap

Jumat, 2 Januari 2026 06:20 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Tahun baru biasanya datang dengan kembang api dan janji. Tetapi pagi ini, republik terbangun tanpa gegap. Tidak ada sorak yang meyakinkan, tidak pula optimisme yang berderap. Kalender memang berganti, namun rasa di perut rakyat tidak ikut berubah. Harga-harga masih menekan, pekerjaan masih rapuh, dan masa depan masih tampak kabur. Tahun baru dimulai, kecemasan lama bertahan.

Negara memulai Januari dengan rutinitas yang tertib: anggaran berjalan, rapat kembali digelar, pidato disusun rapi. Semua terlihat normal. Sementara itu, rakyat memulai hari dengan hitung- hitungan yang tak pernah masuk notulen: cukupkah uang belanja sampai akhir pekan, amankah pekerjaan bulan ini, sekolah anak bagaimana. Di sinilah jarak itu terasa—negara bergerak dengan prosedur, rakyat bergerak dengan kegelisahan.

Baca juga : Arsenal Raja Hoki

Kita sering mengira euforia adalah tanda sehatnya bangsa. Padahal, ketiadaan gegap justru menyingkap sesuatu yang lebih jujur: kelelahan sosial. Bertahun-tahun bertahan membuat rakyat tidak lagi mudah percaya pada kalender. Janji tahunan terdengar seperti gema yang terlalu sering diulang. Yang diinginkan kini bukan slogan pembuka tahun, melainkan kelegaan yang nyata— meski kecil, meski pelan.

Zygmunt Bauman dalam Liquid Fear mengingatkan bahwa ketakutan modern bukan ledakan sesaat, melainkan cairan yang meresap ke kehidupan sehari­-hari. Ketika rasa aman tak pernah benar­-benar tiba, masyarakat hidup dalam kewaspadaan permanen. Di titik itu, optimisme tidak mati—ia menunggu bukti. Tanpa bukti, harapan memilih diam.

Baca juga : Agama Tanpa Cinta

Ironinya, negara kerap menafsirkan keheningan ini sebagai stabilitas. Tidak ada protes besar, tidak ada keributan berarti—maka dianggap baik­-baik saja. Padahal diam bisa berarti lelah, bukan setuju. Ketika rakyat berhenti berteriak, sering kali itu karena suara mereka tak lagi diharapkan menjangkau telinga kekuasaan.

Awal tanpa gegap seharusnya dibaca sebagai peringatan dini. Tahun fiskal baru tidak otomatis menghapus beban hidup. Realisasi anggaran yang cepat tidak selalu berbanding lurus dengan rasa aman yang pulih. Negara perlu memulai tahun bukan dengan perayaan, tetapi dengan keberpihakan yang terasa: harga yang terkendali, layanan yang ramah, pekerjaan yang pasti, bantuan yang tiba tanpa drama.

Baca juga : Awal Pekan, Rupiah Perkasa Ke Rp 16.635

Januari ini belum menentukan segalanya. Tetapi ia memberi tanda. Jika negara membaca tanda ini dengan jujur—tanpa defensif, tanpa kosmetik—awal yang hening bisa berubah menjadi langkah yang tepat. Rakyat tidak menuntut gegap. Mereka menunggu bukti kecil bahwa kecemasan mereka diperhitungkan. Dari sanalah optimisme, pelan-­pelan, mungkin be- rani kembali.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.