Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia sepertinya punya bakat alami dalam seni menyembunyikan sesuatu. Mulai dari resep rahasia sambal keluarga hingga siapa sebenarnya pemilik gedung pencakar langit, “tidak diketahui”. Buram. Parpol juga begitu: sumber dananya, seringkali misterius. Kalau pun ada penyumbang, donaturnya disebut “dari hamba Allah”.
Budaya seperti ini tak bisa dibiarkan. Perlu direformasi. Bukan zamannya lagi Indonesia alergi pada keterbukaan. Saat ini, keterbukaan menjadi kewajiban. Jadi investasi. Bukan beban.
Jangan lagi bersembunyi di balik dalih, “demi harmoni”, atau “bagaimana kalau nanti ribut”. Padahal, yang sering terjadi justru sebaliknya. Yang tertutup itu menumpuk. Menjadi gosip, muncul kecurigaan, dan menjadi bom waktu.
Salah satu bom itu meledak pekan lalu. Pemicunya, MSCI (Morgan Stanley Capital International). Penyusun indeks pasar modal global yang sangat berpengaruh itu curiga melihat struktur kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mirip labirin. Penuh kabut. Tidak jelas siapa pemilik sesungguhnya. Sehingga mudah “digoreng”.
Investor asing seperti MSCI mungkin terdengar cerewet ketika bicara transparansi kepemilikan saham. Minta ini, minta itu. Tapi mari jujur: mereka hanya ingin tahu satu hal sederhana, siapa pegang apa. Siapa pemilik sebenarnya.
Mereka tidak suka “bergelap-gelap dalam terang”. Tidak cukup hanya dengan jaminan “tenang, masuk saja, aman kok”. Karena, mereka juga tahu, tuan rumah sedang menyembunyikan saklar lampunya.
Sesungguhnya, transparansi bukan milik bursa saham saja. Ini soal budaya. Kebiasaan. Transparansi bukan berarti semua harus diumbar. Bukan pula telanjang di ruang publik.
Transparansi itu soal kejelasan peran, aturan, dan konsekuensi. Siapa berwenang apa. Siapa bertanggung jawab kepada siapa. Uangnya dari mana, mengalir ke mana, dan ujungnya, berhenti di mana. Sederhana, tapi sering dihindari.
Baca juga : “Senyum Reshuffle”
Seringkali, kita minta dipercaya, tapi malas menjelaskan. Ingin dianggap profesional, tapi alergi diaudit. Mau dipandang setara dengan dunia, tapi masih gemar bermain bayangan. Ini seperti ingin ikut lomba lari internasional, tapi menolak ditimbang karena “berat badan itu urusan pribadi”.
Lalu bagaimana selanjutnya. Solusinya tidak heroik. Sederhana saja. Datanya rapi, sistemnya terbuka, prosedur- nya konsisten. Bukan sekadar gincu, pemanis atau janji.
Jangan ada lagi UU yang dikebut semalam di ruang gelap satu hotel di sudut Jakarta. Jangan ada lagi kebijakan atau konsesi apa pun, yang lahir dari rapat tertutup, tapi dampaknya diwariskan ke rakyat selama puluhan tahun. Jangan ada lagi keputusan besar “demi rakyat”, tapi rakyat baru tahu setelah semuanya terkunci.
Sesungguhnya, dunia tidak kekurangan negara yang kaya. Dunia hanya kekurangan negara yang bisa dipercaya.
Baca juga : “Budaya” Jalan Berlubang
Karena, pada akhirnya, modal utama sebuah bangsa bukanlah semata-mata emas atau nikel, melainkan kepercayaan.
Memang semuanya tak harus dibongkar. Tapi transparansi data, kepemilikan, pembuatan kebijakan, atau anggaran, harus menjadi milik bersama. Kalau resep sambal enak, seperti sambal Bu Rubi, bolehlah disembunyikan atau jadi rahasia dapur keluarga.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.