Dark/Light Mode

Gorengan Pawang

Minggu, 1 Februari 2026 06:25 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - OJK yang buruk bisa membuat harga gorengan di pinggir jalan jadi mahal. Sebaliknya, OJK yang baik dan kredibel membuat rakyat jadi “murah senyum”. Gembira. Kok bisa?

Kedengarannya seperti menghubungkan kutub utara dengan kutub selatan. Jauh. Tapi nyata. Bagaimana mungkin seorang pejabat yang duduk di ruangan ber-AC di Jakarta bisa menentukan harga gorengan di gang sempit?

Jawabannya: Efek Domino. Kira-kira begini. OJK atau Otoritas Jasa Keuangan adalah “wajah” keuangan Indonesia. OJK dan para pimpinannya, bukan hanya pengawas, tapi “produk” yang sedang dijual Indonesia kepada investor global. Sangat menentukan.

Baca juga : “Senyum Reshuffle”

Kalau (pimpinan) OJK-nya “tidak oke”, maka investor asing di bursa saham, seperti mereka yang ikut indeks MSCI, akan ketakutan. Mereka merasa uangnya tidak aman, karena, OJK sebagai pengawas, tidak kredibel.

Pemilik uang ribuan triliun rupiah, seperti pengikut MSCI itu, bisa menjual sahamnya di BEI dan mencairkan uangnya ke dalam dolar. Uang itu dibawa pulang ke negaranya. Atau mampir ke negara yang lebih aman.

Saat itulah hukum pasar berlaku: dolar jadi mahal, rupiah jadi murah dan loyo. Di sinilah problem itu dimulai.

Baca juga : “Budaya” Jalan Berlubang

Kita semua tahu, Indonesia adalah importer besar. Gandum untuk tepung terigu atau mie instan, kedelai untuk tempe dan tahu, masih impor. Produk-produk impor itu tentu bayarnya pakai dolar.

Saat rupiah melemah akibat sentimen negatif terhadap OJK, biaya impor bahan-bahan tersebut melonjak drastis. Importer gandum dan semua barang impor, tentu tidak mau rugi. Harga kemudian dinaikkan.

Dampaknya, ke harga gorengan. Karena, tepungnya dari gandum impor. Kedelainya, untuk tahu, tempe atau mendoan, juga impor.

Baca juga : Dilarang Berdiri Di Kaki Tetangga

Si abang gorengan tidak tahu siapa itu Ketua OJK. Dia tidak tahu apa itu MSCI yang pengaruhnya luar biasa dan menjadi acuan global itu. Sekarang pun, banyak orang (mungkin kita) tiba-tiba harus belajar untuk mempelajari istilah-istilah teknis tersebut.

Yang abang gorengan itu tahu, harga satu karung terigu naik. Harga satu papan tempe, melonjak. Jika dia tetap menjual dengan harga lama, tekor. Rugi. Maka, pilihannya hanya dua: memperkecil ukuran gorengan, sampai mirip kartu ATM, atau menaikkan harga.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.