Dark/Light Mode

Perubahan atau Pura-Pura

Rabu, 1 April 2026 08:06 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah tekanan Maret, satu kata ramai kembali diucapkan: perubahan. Pemerintah menyebut evaluasi telah dilakukan, arah diperbaiki, dan kebijakan disesuaikan. Di atas kertas, semuanya tampak bergerak. Namun di lapangan, pertanyaan sederhana muncul: apa yang benar-benar berubah?

Perubahan sering diumumkan dengan cepat. Pernyataan resmi dirilis, narasi diperbarui, dan harapan kembali dibangun. Tetapi perubahan yang sejati tidak berhenti pada pengumuman. Ia harus terasa dalam pengalaman sehari-hari—di harga yang lebih terjangkau, layanan yang lebih cepat, dan kebijakan yang lebih adil.

Baca juga : Bertahan atau Berubah

Masalahnya, banyak perubahan berhenti di permukaan. Bahasa diperhalus, istilah diperbarui, dan prioritas dikemas ulang. Namun struktur yang sama tetap bekerja. Prosedur tidak berubah, akses tidak membaik, dan kelompok rentan tetap berada di posisi yang sama. Di titik ini, perubahan berubah menjadi kosmetik.

Publik tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Mereka cukup peka untuk membaca perubahan kecil yang nyata. Ketika sesuatu benar-benar diperbaiki, ia langsung terasa. Sebaliknya, ketika yang berubah hanya narasi, publik juga cepat menyadarinya. Kepercayaan tidak dibangun oleh kata-kata baru, tetapi oleh pengalaman yang berbeda.

Baca juga : Arah yang Diperbaiki

Ada kecenderungan dalam kekuasaan untuk merespons tekanan dengan adaptasi simbolik. Tujuannya sederhana: meredakan kritik tanpa mengubah fondasi. Strategi ini mungkin efektif dalam jangka pendek, tetapi berisiko dalam jangka panjang. Ketika publik menyadari pola ini, setiap klaim perubahan akan semakin sulit dipercaya.

Pierre Bourdieu menunjukkan bagaimana simbol dan bahasa dapat digunakan untuk mempertahankan struktur kekuasaan tanpa perubahan substantif (Language and Symbolic Power, 1991). Dalam konteks ini, perubahan bisa menjadi alat legitimasi, bukan alat perbaikan.

Baca juga : Negara yang Rendah Hati

Perubahan atau pura-pura—pertanyaan ini tidak dijawab oleh pemerintah, tetapi oleh rakyat melalui pengalaman mereka. Jika perubahan benar, ia akan dirasakan. Jika tidak, ia hanya akan menambah jarak antara negara dan warga. Dan dalam politik, jarak yang terus bertambah selalu membawa konsekuensi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.