Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Tidak semua kebijakan yang benar menghasilkan kebaikan. Ada keputusan yang secara administratif tepat, secara hukum sah, dan secara ekonomi rasional, tetapi tetap meninggalkan luka. Di situlah empati menjadi penting. Ia bukan pengganti nalar, melainkan penjaga agar nalar tidak kehilangan kemanusiaannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, tata kelola publik semakin bergerak ke arah teknokratis. Angka menjadi rujukan utama, indikator menjadi kompas, dan efisiensi menjadi ukuran keberhasilan. Pendekatan ini memiliki banyak keunggulan. Masalah muncul ketika manusia yang berada di balik angka mulai menghilang dari perhatian.
Baca juga : Kekuasaan yang Lelah
Kebijakan publik akhirnya lebih sibuk mengelola data daripada memahami pengalaman. Warga dipetakan sebagai kategori, kelompok sasaran, atau statistik. Padahal kehidupan tidak pernah sesederhana tabel dan grafik. Ada kecemasan yang tidak masuk laporan, ada rasa kehilangan yang tidak tercatat, dan ada martabat yang tidak bisa diukur dengan indikator.
Empati berfungsi mengisi ruang yang tidak mampu dijangkau oleh pendekatan teknokratis. Ia mengingatkan bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi manusiawi. Ketika subsidi dikurangi, ketika layanan diubah, ketika anggaran dipindahkan, selalu ada kehidupan yang terdampak. Tanpa empati, dampak itu mudah dianggap sekadar angka penyesuaian.
Baca juga : Harga dari Pilihan
Martha Nussbaum dalam Political Emotions (2013) berargumen bahwa demokrasi yang sehat tidak dapat bertahan hanya dengan hukum dan institusi. Ia membutuhkan emosi publik yang memelihara kepedulian, solidaritas, dan perhatian terhadap sesama. Politik tanpa empati akan kehilangan fondasi moralnya, meskipun prosedurnya berjalan dengan baik.
Karena itu, kualitas sebuah kebijakan tidak cukup diukur dari keberhasilannya mencapai target. Ia juga harus dinilai dari cara kebijakan tersebut memperlakukan manusia. Apakah ia menghormati yang lemah? Apakah ia melindungi yang rentan? Apakah ia memahami beban yang harus ditanggung warga?
Baca juga : Kepemimpinan yang Teruji
Ketika empati hilang, negara memang masih bisa bekerja. Namun ia bekerja seperti mesin: efisien, cepat, dan dingin. Kebijakan yang benar bisa tetap melukai. Dan luka yang terus berulang pada akhirnya akan mengikis sesuatu yang jauh lebih penting daripada keberhasilan program—yaitu kepercayaan bahwa negara masih memiliki hati.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.