Dark/Light Mode

Bekerja untuk Siapa

Jumat, 12 Juni 2026 08:12 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu pertanyaan paling penting dalam pemerintahan sering justru paling jarang diajukan: untuk siapa negara bekerja? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya menentukan arah birokrasi, kebijakan, dan bahkan makna pelayanan publik itu sendiri.

Di atas kertas, jawabannya tentu jelas: untuk rakyat. Namun dalam praktik, hubungan itu tidak selalu sesederhana yang dibayangkan. Banyak institusi perlahan lebih sibuk memenuhi kebutuhan sistem daripada kebutuhan warga. Energi habis untuk laporan, prosedur, koordinasi, dan target administratif. Yang dilayani bukan lagi masyarakat, melainkan mekanisme yang diciptakan untuk melayani masyarakat.

Baca juga : Rakyat yang Menunggu

Fenomena ini terlihat ketika keberhasilan lebih sering diukur dari dokumen yang selesai daripada masalah yang terselesaikan. Sebuah program dianggap berhasil karena target tercapai, meski manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan. Sebuah layanan dianggap baik karena memenuhi standar operasional, meski warga masih merasa dipersulit. Sistem bekerja, tetapi tujuan awalnya menjadi kabur.

Birokrasi memang membutuhkan aturan. Tanpa aturan, negara akan kacau. Namun aturan seharusnya menjadi alat, bukan tujuan. Ketika prosedur lebih penting daripada manusia yang dilayani, birokrasi kehilangan ruhnya. Ia berubah menjadi mesin yang efisien bagi dirinya sendiri, tetapi tidak selalu berguna bagi publik.

Baca juga : Anggaran dan Hati

David Graeber dalam Bullshit Jobs (2018) mengkritik kecenderungan modern untuk mempertahankan aktivitas yang secara administratif tampak penting, tetapi memiliki dampak sosial yang minim. Kritik ini tidak hanya relevan bagi dunia kerja, tetapi juga bagi tata kelola publik. Sebuah sistem bisa terlihat sangat sibuk tanpa menghasilkan manfaat yang sebanding bagi masyarakat.

Pertanyaan tentang orientasi menjadi semakin penting ketika sumber daya negara terbatas. Setiap rapat, setiap regulasi, dan setiap keputusan membutuhkan biaya. Jika seluruh energi itu tidak berujung pada perbaikan kehidupan warga, maka negara berisiko terjebak dalam lingkaran aktivitas yang produktif di atas kertas tetapi miskin makna di lapangan.

Baca juga : Ketika Empati Hilang

Untuk rakyat atau untuk sistem? Pertanyaan ini layak diajukan berulang kali. Sebab ukuran keberhasilan negara bukan pada seberapa rapi prosedurnya, melainkan pada seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. Ketika birokrasi mulai lupa kepada siapa ia bekerja, saat itulah negara perlu kembali mengingat tujuan keberadaannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.