Dewan Pers

Dark/Light Mode

Leader Banyak Haters

Senin, 12 Oktober 2020 05:02 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Jadi pejabat itu, harus punya nyali dan siap mental untuk dihina, diumpat, dan dihujat. Setiap harinya, bukan bertambah jumlah lovers, tapi haters. Apa maksudnya? Kenapa meski demikian.

Tentu yang dimaksud di sini, bukan pejabat yang muka tembok, pejabat yang sudah salah tapi merasa benar, pejabat yang tidak becus, tapi ngaku bisa, dan gak mundur, bukan pula, pejabat yang tidak sensitif dengan persoalan yang dihadapi. 

Berita Terkait : Omnibus Law Rasanya A###%$ Banget!

Tapi, pejabat yang dimaksud disini, adalah pejabat yang bersih, punya integritas, dan tidak mau terperangkap dalam status quo. Ini kisah pejabat, yang punya keyakinan kuat tentang harus adanya perubahan, perubahan mental, dan tatanan kehidupan kearah lebih baik. Dan untuk itu, dia berani melawan arus publik, yang berada di zona nyaman. Ia berani menentang mayoritas, yang terlalu nyaman dengan kenyataan, yang sesungguhnya banyak persoalan. 

Pemimpin seperti ini, karena kekuatan visinya, yang terbukti dalam sejarah, melakukan lompatan, dan dicatat sejarah sebagai pelopor pembaharuan. Awalnya, biasanya, mereka dikecam, karena mengganggu establishment, tapi biasanya, seiring waktu, gerakan transformasinya dirasakan manfaatnya oleh publik. 

Berita Terkait : Membungkam Vokalis

Dalam suasana pandemi dan resesi ekonomi, kita memerlukan pejabat/pemimpin yang bertindak out of the box, berani berbeda... Tapi bukan sekedar beda, berbeda karena punya keyakinan, program, dan kegiatan yang bisa mengeluarkan bangsa ini, dari 2 ancaman sekaligus. 

Untuk mewujudkan hal itu, mereka bernyali untuk di luar mainstream, dan pada saat yang sama, berani menjadi orang yang banyak hatersnya, tapi dia fokus dengan keyakinan, bahwa programnya adalah yang terbaik. Jadilah pemimpin yang berani tidak populer, karena bernyali membuat kebijakan yang dipersepsi tidak populer, padahal untuk kebaikan. 

Berita Terkait : Herd Immunity

Kita lihat dalam kasus Omnibus Law, apakah para pemimpin kita ini, kategorinya muka tembok, atau para pemimpin bernyali, yang ingin terjadinya transformasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, semoga pandemi dan resesi, melahirkan pemimpin-pemimpin besar untuk Indonesia di masa depan.