Dewan Pers

Dark/Light Mode

Memenangi Resesi dan Pandemi

Jumat, 4 September 2020 04:55 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Tidak ada pilihan lain di tengah guncangan resesi dan pandemi: tenang dan sabar. Ya, ketenangan dan kesabaran adalah kemenangan. Begitu Tuan Guru Sufi Agung Syeikh Muhammad Abdul Gaos menyampaikan. Ya, dua kata kunci itulah yang bisa menjamin kemenangan kita sebagai bangsa di tengah perang proxy resesi dan pandemi. Bagaimana praksisnya?

Ini bukan soal virus lagi. Bukan soal nyawa manusia lagi. Tetapi soal pembunuhan ekonomi yang bisa lebih dahsyat korbannya. Kalau mati karena virus, usia penderitaannya tidak panjang. Hanya beberapa minggu saja. Dan hanya dialami individu penderita.

Berita Terkait : Rekening Gendut Jaksa?

Beda dengan serangan ekonomi sebagai dampak terjauh dari Covid-19. Penderitanya lebih menyiksa dari yang terpapar dan lebih panjang usia dan massif penderitaannya. Yang mati bukan cuma warga negara tapi sebuah bangsa.

Oleh karenanya semua mesti waspada. Tenang itu bukan tenang-tenang saja. Tenang artinya kebijakan yang kita sebagai bangsa ambil bukan karena dicekam kepanikan. Orang panik akal sehatnya disfungsi. Orang tenang sebaliknya akan komprehensif dan menyeluruh dalam mengambil sikap.

Berita Terkait : Kebebasan Yang Tidak Bebas

Pemimpin tenang akan menenangkan. Tidak akan bisa menenangkan kalau pemimpin tidak tenang. Ia panik. Takut. Ini bahaya, pemimpin malah menjadi penebar rasa takut kepada rakyatnya. Ini masalah malah makin membesar.

Dampak Covid-19 ini adalah bayang-bayang krisis ekonomi. Semua harus bersiaga menghadapi ini. Semua harus punya cadangan kesabaran di atas rata-rata. Tidak ada pilihan lain.

Berita Terkait : Suramnya Dunia Penegakan Hukum

Sikap jiwa sabar ini penting dimiliki dari dimensi apa pun. Inilah sikap jiwa terbaik menghadapi tekanan kehidupan yang periodenya akan panjang. Sabar itu bukan diam. Tapi sikap jiwa yang pantang menyerah meretas ikhtiar lalu tawakal menghadapi semua.