Dark/Light Mode

Omnibus Law Rasanya A###%$ Banget!

Jumat, 9 Oktober 2020 06:10 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Era media sosial bener-bener telah menyajikan horor. Banjir bandang informasi penuh sampah. Sulit membedakan mana fakta, mana opini dan mana settingan. Semua campur. 

Bikin emosi. Bikin miris. Bikin suasana tidak kondusif. Pemerintah merasa benar. Para wakil rakyat merasa telah melakukan langkah benar. Sementara itu, para buruh, mahasiswa, dan bahkan publik juga merasa benar turun ke jalan menolak semuanya. Mentah-mentah. 

Berita Terkait : Leader Banyak Haters

Meledaklah amarah. Jalan-jalan penuh disesaki massa yang kecewa, kesal, nggak punya duit. Ditambah sudah fed up dengan fucking Covid! Sudah stres dengan kebijakan pembatasan ruang gerak karena pandemi, eh pemerintah-parlemen mengeluarkan undang-undang bola panas. 

Akumulasi perasaan/emosi yang nano-nano ini telah membuat aksi mereka brutal. Bar-bar. Anarkis. Beberapa fasilitas publik dirusak massa. Aparat dilawan. Diserang. Bentrokan. 

Berita Terkait : Membungkam Vokalis

Sudah begitu tak terkendali dan serentaknya aksi massa, pemerintah bukannya mengendurkan sikap malah sepertinya keukeuh maju terus dengan Omnibus Law-nya. Bahkan menuding aksi yang meletus di manamana ini ada bayari. 

Aksi massa ditengarai pemerintah ada bandarnya. Ada aktor intelektualnya. Ada jaringannya. Mereka adalah barisan yang selama ini dipecundangi. 

Berita Terkait : Herd Immunity

Sebaiknya masing-masing kita menahan diri. Jaga jarak. Lalu dalam suasana jernih saling mendengar, saling bertoleransi. Saling mendengar, saling menerima. Semua untuk Indonesia. Jangan ada perpecahan. Bersatu untuk Kejayaan Agama dan Negara.