Dark/Light Mode

Kenormalan Baru Yang Tidak Normal

Senin, 14 September 2020 05:07 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Kehidupan yang didambakan di bawah hashtag Kenormalan Baru ternyata harus dilupakan. Pemerintah khususnya di Ibu Kota negara yang menjadi parameter dalam penanganan pandemi kembali menerapkan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) dengan segala konsekuensinya. Ini sungguh mengoyak harapan kenyataan telah lebih baik.

Kesehatan pribadi warga adalah prioritas, di atas kesehatan perekonomiannya. Keterpurukan kesehatan dianggap yang jauh lebih bahaya karena terdekat kematian. Situasi keterpurukan ekonomi masih jauh dari kematian.

Baca juga : Corona Anjay

Diberlakukan PSBB semua akan diimbau #dirumahaja. Kalau pun keluar juga tidak jelas mau kemana dan ngapain. Mall apalagi lokasi-lokasi liburan ditutup. Kuliner juga hanya bisa mengakses online.

Jadi keadaan tidak menyenangkan. Hiburan kembali hanya akan bergantung pada digital. Tontonan menghibur hanya diakses melalui digital. Semua urusan diselesaikan melalui fitur smartphone.

Baca juga : Jangan Ganggu Pancasila

Semua dipaksa diputus dengan dunia nyata. Semua perjumpaan sepenuhnya online. Daring dengan segala kekurangannya. Dengan segala bahayanya.

Sekolah, dunia kerja, beribadah, semua dari rumah. Sekolah tutup, perkantoran tutup, dan rumah-rumah ibadah ditutup. Semua me-lockdown diri di rumah.

Baca juga : Memenangi Resesi dan Pandemi

Keluarga jadi orang yang sering ditemui di keseharian. Akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka. Ini barangkali yang sejatinya positif di balik peristiwa pandemi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.