Dewan Pers

Dark/Light Mode

Halal: Kenapa Kalah Dari Brasil?

Minggu, 25 Oktober 2020 05:02 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Setidaknya, ada dua kekalahan Indonesia dari Brasil. Pertama, tentu saja, sepak bola. Kedua, produk-produk halal.

Kekalahan produk-produk halal Indonesia dari Brasil disampaikan Wakil Presiden Ma'ruf Amin saat membuka seminar, kemarin.

“Selama ini,” kata Wapres, “Indonesia hanya menjadi konsumen dan 'tukang stempel' untuk produk halal yang diimpor”.

Wapres berharap, ke depan, Indonesia menjadi pemain utama produk halal dunia. Bukan sekadar tukang stempel. Perbanyak ekspor, bukan impor.

Berita Terkait : Rp 65 Miliar Dan Kapitalisme Politik

Memang terdengar aneh kalau Indonesia kalah dari Brasil untuk produk-produk halal, terutama untuk makanan dan minuman. Karena, di Indonesia, muslimnya mayoritas. Di Brasil, minoritas. Hanya 0,0002 persen dari populasi.

Meski minoritas, Brasil sangat pandai memanfaatkan peluang. Sangat serius bermain di industri produk-produk halal dunia. Sejak beberapa tahun lalu, selain Timur Tengah, mereka juga menjadikan Indonesia dan Malaysia sebagai konsumen potensial. Mereka menguasai pasar produk halal dunia.

Di Brasil, ada tiga lembaga besar sertifikasi halal; Pusat Makanan Halal Brasil Islami (CIBAL Halal), Federasi Asosiasi Muslim Brasil (FAMBRAS), dan Pusat Promosi Muslim Amerika Latin.

Urusannya macam-macam. Menyangkut seluruh rantai produksi. Sangat detail. Bahkan, ada “sertifikat untuk kulkas halal”. Tidak heran kalau dari total produksi ayam di Brasil, 33 persennya bersertifikat halal. Diekspor.

Berita Terkait : 5 + 1 Krisis

Untuk daging sapi, lebih besar lagi. persentasenya bahkan sampai 40 persen dari total produksi. Besar sekali.

Sekarang, Brasil sedang merancang kawasan pelabuhan khusus untuk produk-produk halal. Mereka mengadaptasi terminal kapal eksklusif untuk menampung kargo bersertifikat Halal di Rotterdam, Belanda.

Kita belum mendengar Indonesia seserius itu. Padahal, potensi dan sumber dayanya tersedia. Di Brasil, misalnya, mencari tukang jagal atau tukang potong ayam bersertifikat halal tidak semudah di Indonesia. Tapi mengapa ekspor daging halal Brasil jauh melampaui Indonesia.

Salah satunya, karena berinvestasi dan berusaha di Indonesia sangat rumit. Birokratis. Mahal. Banyak punglinya. Dihantui korupsi. Inilah napas yang ingin dibawa Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja. Ingin mengubah dan menghilangkan hambatan-hambatan itu.

Berita Terkait : Prabowo Manula Saat Pilpres 2024

Tapi kenapa UU ini dikritik keras? Kalau diibaratkan memotong ayam, mungkin diragukan “kehalalannya”. Ada prosedur yang diabaikan.

Beda dengan makan di restoran atau warteg, walaupun prosesnya tidak diketahui, motong ayamnya dimana, siapa yang motong, tapi konsumen tetap yakin: pasti halal.

Kenapa bisa muncul sikap seperti ini? Salah satu jawabannya: kepercayaan. Ini poin sangat penting.

Tampaknya, ini yang membuat Brasil bisa menjadi pemain utama produk halal dunia: bisa memberi keyakinan dan kepercayaan. Walau mereka bukan negara Muslim.(*)