Dark/Light Mode

Indonesia, Trump-Biden, Tyson-Ali

Kamis, 5 Nopember 2020 05:02 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Siapa yang akan menguntungkan Indonesia: Trump atau Biden?

Itu pertanyaan utama terkait pilpres Amerika Serikat, kemarin. Pertanyaan itu selalu muncul di setiap pilpres AS.

Pilpres AS empat tahun lalu, juga demikian: siapa yang menguntungkan Indonesia? Trump atau Hillary Clinton?

Trump akhirnya terpilih. Hillary kalah. Ada kekhawatiran bahwa Trump (Republik) akan sangat berbeda dengan Obama (Demokrat) karena Obama dekat dengan Indonesia.

Ternyata tidak terlalu ada perbedaan signifikan. Sempat ada kasus yang merugikan Indonesia, misalnya Februari lalu ketika AS menghentikan subsidi bea masuk untuk produk-produk Indonesia.

Berita Terkait : Trump Kalah, Trumpisme Tidak

Saat itu, Amerika menilai Indonesia tak perlu mendapat “hadiah” tersebut. Pemerintah Trump menilai kebijakan itu tidak adil. Indonesia tak perlu dimanja.

“Pelajaran” itu hanya bertahan delapan bulan. Oktober lalu, pemerintahan Trump kembali berbaik hati kepada Indonesia. Indonesia kembali diberikan fasilitas bernama Generalized System of Preferences (GSP) tersebut.

Dengan demikian, sebanyak 3.572 pos tarif produk-produk Indonesia yang masuk ke Amerika akan mendapat keringanan bea masuk ke Amerika Serikat.

Ini peluang besar. Pertanyaannya, apakah ladang subur tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik dan produktif, atau justru menjadi lahan tandus tak terurus?

Jadi, siapa pun yang terpilih, Biden atau Trump, semuanya berpulang ke Indonesia. Harus selalu siap siaga siapa pun yang terpilih. Biden Demokrat atau Trump Republik selalu ada tantangan dan peluang.

Berita Terkait : Kudeta Merangkak?

Yang penting, Indonesia bisa menyiapkan diri dengan baik. Menyiapkan pondasi yang kokoh. Selama Indonesia masih menjadi negara pengimpor, bukan pengekspor, kondisi kita selalu rawan. Tidak ada yang lebih baik selain menyiapkan diri sendiri. Tidak bergantung ke negara mana pun.

Karena, secara umum, tujuan dalam negeri Trump atau Biden, sama saja: demi negara mereka sendiri. Demi kemajuan dan kemakmuran rakyat Amerika.

Bedanya, Trump seperti Mike Tyson. Sangat agresif. Brutal. Harus mengalahkan lawan di ronde-ronde awal. Kalau perlu menang KO. Apapun caranya.

Kalau Biden seperti Muhammad Ali. Elegan. Ada seninya. Pelan-pelan, agak lama sedikit, tak apa, yang penting tujuan tercapai: menang.

Trump dan Biden juga demikian.

Berita Terkait : Geliat Pelaku Usaha Kecantikan Di Bali Hadapi Pandemi

Dalam kasus melawan hegemoni ekonomi China misalnya, perumpamaannya kira-kira begini: kalau Trump langsung konfrontasi dengan China. Ngajak duel satu lawan satu. Perang.

Kalau Biden, tidak langsung duel konfrontatif. Lebih soft. Pelan-pelan. Dia akan mengajak kerjasama negara-negara lain. Amerika akan kembali masuk dan berperan di organisasi-organisasi internasional. Tujuannya sama saja: mengalahkan China.

Lalu dimana posisi Indonesia? Garap lahan sendiri dengan baik, hilangkan korupsi dan hambatan berusaha, lalu manfaatkan hadiah atau subsidi dari negara-negara lain, termasuk dari China atau Amerika. Bukan sebaliknya, Indonesia dimanfaatkan Amerika atau China. Indonesia harus cuan. Bukan amsyong.(*)