Dark/Light Mode

Menunggu Mahfud

Selasa, 8 Juni 2021 06:33 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - “Sekarang, korupsi lebih gila daripada era Orde Baru”. Itu pernyataan Menko Polhukam Mahfud Md yang kemudian menjadi judul berita di hampir semua media massa. Pernyataan tersebut disampaikannya saat berdialog di UGM, Sabtu, 5 Juni lalu.

Yang dimaksud “sekarang” oleh Mahfud adalah era setelah Soeharto. Era reformasi. Era yang sudah dipimpin oleh lima orang presiden. Dia menyebut masalah berkepanjangan itu sebagai “limbah”.

Berita Terkait : Korea, Saus Dan Rendang

Ini pernyataan menarik. Kalau dinilai, untuk item kejujuran dan keterusterangan, Mahfud Md dapat nilai 9,5. Blak-blakannya, juga 9,5. Karena, dia sedang memegang posisi penting di bidang polhukam. Tidak banyak pejabat yang mau berterusterang.

Sekarang, kata Mahfud, hukum telah kehilangan sukma, bisa diperjualbelikan. Pernyataan ini sangat dalam. Juga menyedihkan. Dalam kamus bahasa Indonesia, sukma artinya jiwa, nyawa.

Berita Terkait : Pemilu 2024 Jangan Melukai

Namun, masalahnya, Mahfud bukan sekadar akademisi. Dia punya wewenang. Punya kemampuan untuk berjuang lebih dari seratus persen. Rakyat menunggu: “bagaimana eksekusinya”. Apa yang dilakukannya. Sekarang dan nanti.

Karena itu, walau nilai keterusterangannya 9,5, tapi untuk eksekusi, menuntaskan masalah, Mahfud hanya dapat nilai 6. Belum oke.
 Selanjutnya