Dark/Light Mode

PSG Berpesta, Paris Rusuh

Selasa, 2 Juni 2026 06:20 WIB
PSG menggelar perayaan di area Menara Eiffel usai juara Liga Champions. (Foto: Instagram/psg)
PSG menggelar perayaan di area Menara Eiffel usai juara Liga Champions. (Foto: Instagram/psg)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hanya di Prancis, warga terpaksa mengunci diri di rumah saat perayaan kemenangan klub sepak bola. Kerusuhan mencoreng perayaan kejayaan PSG.

Paris Saint-Germain (PSG) berpesta usai mempertahankan gelar juara Liga Champions dalam drama adu penalti kontra Arsenal. Namun, kerusuhan di Paris merebak sejak peluit panjang wasit dalam final di Budapest, Hungaria. 

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan, kerusuhan umumnya terjadi di daerah Champs Elysees dan area dekat Stadion Parc des Princes, tempat suporter PSG menggelar acara nonton bareng. 

Per kemarin, Nunez menyebut 780 orang ditangkap di Paris dan kota-kota lain pasca-kerusuhan. Sebanyak 57 aparat kepolisian juga terluka, sebagian besar mengalami luka ringan. 

Baca juga : Roland Garros, Bocah Brasil Tekuk Petenis Unggulan

Nunez menyatakan, situasi berangsur kondusif ketika PSG menggelar perayaan di area Menara Eiffel yang dihadiri 100 ribu suporter. “Situasi secara umum telah terkontrol. Sebagian besar perayaan yang digelar berangsung damai,” kata Nunez. 

Sejumlah pertokoan dirusak selama kerusuhan di Paris. Suporter juga disebut sempat berupaya memblokade jalan raya, tetapi dibubarkan polisi. 

Kantor Kejaksaan Paris menyatakan, 306 orang ditahan secara resmi usai kerusuhan tersebut, 81 orang masih di bawah umur. 

Ratusan orang itu ditangkap atas tuduhan menyerang aparat kepolisian, vandalisme, pencurian, hingga mengganggu ketertiban umum. 

Baca juga : Duel Sengit “Si Harimau” Sayap Kanan Dan Kubu Kiri

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam kerusuhan yang terjadi di Paris usai PSG juara. Hal ini disampaikan Macron saat menjamu skuad PSG di Istana Kepresidenan Elysee. 

“Saya tidak mau kita terbiasa dengan itu (kerusuhan). Ini bukan sepak bola, ini bukan olahraga, ini bukan sesuatu yang kita cintai,” kata Macron. 

“Kita tidak mau ini terjadi lagi. Ini sudah selesai. Cukup. Ini harus berakhir,” tegasnya. 

Anggota parlemen sayap kanan Prancis, sekaligus mantan kandidat presiden Marine Le Pen, ikut menyindir situasi tersebut. 

Baca juga : Inka Andestha Geram, Digosipin Selingkuhan Arhan

“Hanya di Prancis, semua orang merasa terpaksa mengunci diri di rumah mereka pada malam kemenangan untuk menghindari kekerasan,” katanya. [JON]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.