Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat dukungan luas. Selain meningkatkan asupan gizi masyarakat, program ini juga menjadi strategi percepatan industrialisasi desa dan penguatan UMKM. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan alat penyimpanan dan pengolahan makanan yang selama ini masih bergantung pada impor.
“Industri desa harus jadi bagian utama dalam program MBG. Kami mulai mengidentifikasi alat-alat penyimpanan dan pengolahan makanan yang selama ini diimpor agar bisa dikembangkan secara lokal,” ujar Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, dalam diskusi Ngopi Bareng Kemdiktisaintek, Selasa (11/2/2024).
Untuk merealisasikan target ini, perguruan tinggi akan bekerja sama dengan UMKM dalam menciptakan alat produksi berkualitas yang sesuai standar. Harapannya, industri pangan di desa bisa lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada produk luar negeri.
Selain pengolahan, program ini juga menyoroti masalah distribusi bahan pangan. Sistem pertanian klaster akan dikembangkan agar setiap daerah bisa menyesuaikan produksi dengan kebutuhan setempat.
“Kami ingin menciptakan sistem distribusi yang lebih efisien. Kampus-kampus akan mendampingi petani dan peternak agar masalah distribusi dan produksi di desa bisa teratasi,” jelas Fauzan.
Salah satu sektor yang mendapat perhatian khusus adalah pengolahan susu. Selama ini, susu UHT masih menjadi pilihan utama, namun biayanya cukup tinggi. MBG mendorong pengembangan teknologi lokal agar desa memiliki fasilitas pemrosesan susu sendiri.
“Kami ingin memastikan setiap desa punya alat pengolahan susu, sehingga lebih terjangkau dan mudah didistribusikan,” tegasnya.
Teknologi juga akan dimanfaatkan untuk mengukur efektivitas program, khususnya bagi anak-anak yang menjadi sasaran utama. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penerapan kecerdasan buatan (AI) untuk pemantauan melalui perangkat seluler. Teknologi ini memungkinkan pengecekan kondisi anak sebelum dan sesudah menerima manfaat dari MBG, sehingga dampak program bisa terukur lebih akurat.
“Dengan pemantauan berbasis AI, kita bisa melihat perubahan kondisi anak secara real-time. Ini penting agar program berjalan sesuai target yang diharapkan,” pungkasnya.
Videografer & Editor:
Hendrawan K Wijaya
Tags :
Video Lainnya