Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Upaya Indonesia mencapai target penurunan emisi sektor kehutanan melalui Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi pendanaan. Pemerintah memperkirakan kebutuhan dana mencapai Rp400 triliun untuk memenuhi komitmen iklim di berbagai sektor, termasuk kehutanan, energi, pertanian, limbah, dan industri pengolahan.
Penasehat Senior Tim Kerja FOLU Net Sink 2030, Ruandha Sugardiman, menjelaskan bahwa ketika pertama kali dihitung pada 2022, kebutuhan pendanaan hanya sekitar Rp200 triliun untuk sektor kehutanan saja. Namun, saat memperluas cakupan ke lima sektor utama penyumbang emisi, estimasi meningkat dua kali lipat menjadi Rp400 triliun.
"Kalau ditanggung hanya oleh APBN, tentu tidak akan mampu," ujar Ruandha dalam Journalist Workshop on FOLU Net Sink 2030, Jumat (16/5/2025).
Saat ini, dana yang telah berhasil dikumpulkan untuk mendukung agenda iklim, termasuk program FOLU Net Sink, baru sekitar Rp21 triliun. Dana tersebut dikelola oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) di bawah Kementerian Keuangan.
Sektor kehutanan memegang peran strategis dalam pencapaian target iklim Indonesia, menyumbang sekitar 60 persen dari total target penurunan emisi nasional. Target penurunan emisi dari sektor FOLU sendiri dipatok sebesar 304 juta ton CO₂ ekuivalen pada tahun 2050, sementara target jangka menengahnya adalah 140 juta ton CO₂ ekuivalen pada 2030.
Untuk menjembatani kesenjangan pendanaan, pemerintah mengandalkan mekanisme nilai ekonomi karbon yang memungkinkan perdagangan karbon di pasar domestik dan internasional. Pendapatan dari mekanisme ini akan digunakan untuk membiayai program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Selain itu, Indonesia juga menjalin kerja sama internasional, salah satunya dengan Norwegia melalui skema berbasis hasil (result-based payment). Total kontribusi Norwegia telah mencapai US$216 juta, yang disalurkan melalui BPDLH berdasarkan perjanjian kontribusi bersama. Pada Februari 2025, kerja sama ini resmi diperpanjang hingga 2030 oleh Menteri Kehutanan Indonesia Raja Juli Antoni dan Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia Bjelland Eriksen.
Melalui kombinasi mekanisme pasar, kemitraan internasional, dan dukungan domestik, Indonesia berharap dapat mempercepat langkah menuju FOLU Net Sink 2030 sekaligus memperkuat kontribusinya dalam aksi iklim global.
Videografer & Editor:
Hendrawan K Wijaya
Tags :
Video Lainnya