Sebelumnya
Kenapa?
Karena, kalau tidak melakukan pergerakan untuk membuat poros baru, Golkar hanya akan menjadi pengikut (follower). Misalkan, Golkar masuk ke poros PDIP, akan menjadi pengikut. Jika masuk ke koalisi pendukung Prabowo, juga akan menjadi pengikut.
Apa masalahnya jika Golkar jadi pengikut?
Golkar adalah partai besar, berpengalaman, harus menjaga ruh dan marwahnya. Caranya, dengan mengusung Calon Presiden.
Baca juga : Firman Soebagyo: Janganlah Menari Di Genderang Orang Lain
Tapi kan, tidak mudah bagi Golkar untuk mengusung Ketua Umumnya sebagai Capres. Gimana tuh?
Memang, mengusung Capres itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Harus ada partai lain yang mau berkoalisi dengan Golkar. Karena, Golkar tidak memenuhi syarat untuk mengusung Capres sendirian.
Pada saat yang sama, elektabilitas Ketum Golkar harus tinggi. Karena, semua koalisi dibentuk untuk menang.
Saat ini, bagaimana elektabilitas Ketum Golkar?
Baca juga : Eksekutif Keuangan Dan Jurnalis Gelar Ketoprak Lakon Ratu Kalinyamat
Walaupun elektabilitas Airlangga belum cukup, tapi menjaga marwah partai itu penting. Kalau ketumnya jadi Capres, maka para kader akan bergerak sepenuhnya.
Tapi, situasinya sulit ya?
Memang, rekomendasi Dewan Pakar Golkar ini dilematis. Golkar harus bisa mencari solusinya. Apalagi, partai-partai lain sudah bergerak. Golkar harus punya gerakan-gerakan progresif agar tidak ketinggalan.
Saran Anda?
Baca juga : Ujang Komarudin: Khofifah Pilihan Pas Dari Eksternal Koalisi
Rekomendasi ini perlu diperhatikan supaya, para kader semangat, solid. Jangan sampai ribut menjelang Pemilu. [REN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.