Pencanangan arsitektur transisi energi menuju lingkungan berkelanjutan menjadi salah satu topik utama bagi Pemerintah Indonesia dalam Presidensi G20. Isu lingkungan merupakan pembahasan urgensial yang tidak hentinya diperbincangkan pemangku dunia guna menemukan upaya tepat dalam penanggulangannya di seluruh dunia. Indonesia sebagai negara pengguna kendaraan bermotor sebagai transportasi mobilitas utama menyebabkan tingkat pencemaran udara bangsa kita semakin parah. Gas karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2) merupakan polutan utama dari emisi (gas buang) pembakaran pada kendaraan bermotor yang sangat berbahaya jika dihirup manusia.
Emisi CO dari knalpot yang masuk ke paru-paru akan menempel pada haemoglobin darah membentuk carboxy haemoglobin (COHb) yang dapat menyebabkan kematian. Sementara emisi CO2 dari kendaraan bermotor berpotensi meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfer yang berdampak pada melonjaknya suhu bumi secara global dan memicu terjadinya efek rumah kaca yang kini menjadi isu krusial dunia, yaitu pemanasan global dan perubahan iklim. Tingginya urgensi permasalahan ini juga menjadi salah satu tantangan masyarakat dalam mewujudkan tujuan global 2045, yakni Sustainable Development Goals (SDGs) terkhususnya pada tujuan 13 tentang take urgent action to combat climate change and its impacts atau mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya karena belum adanya upaya massal yang efektif dalam menanggulangi permasalahan ini.
Baca juga : BNPT Dan Australia Lakukan Konsultasi Bilateral Lanjutan
Di tahun 2020, Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia sebagai penghasil sampah domestik terbanyak, yakni mencapai 67,8 juta ton per tahun. Krusialnya, berdasarkan pengelompokan jenis sampah domestik di Indonesia, jumlah sampah plastik mencapai 14 persen dari total produksi sampah (Indonesia Solid Weste Asosiation, 2015). Plastik yang kerap digunakan saat ini ialah polimer sintetik yang terbuat dari minyak bumi (non-revewable) sehingga tidak dapat terdegredasi oleh mikroorganisme di lingkungan, salah satu contohnya adalah plastik berjenis HDPE. Plastik berjenis HDPE (High Density Polyethelene) yang cukup praktis bagi masyarakat menyebabkan benda ini menempati peringkat teratas jenis sampah plastik terbanyak yang dihasilkan karena memiliki sifat tahan terhadap bahan kimia.
Sampah maupun limbah plastik kerap kali terlihat berserakan ataupun menghiasi area aliran rawa, sungai, pesisir, dan laut terutama perairan darat yang dekat dengan komplek industri. Pemanfaatan plastik HDPE sering dijumpai pada lapisan pelindung komponen otomotif, seperti kendaraan bermotor. Jumlah kendaraan bermotor yang saat ini terus meningkat pesat di Indonesia selain memicu pencemaran udara dan suara yang semakin parah namun juga dikhawatirkan berpotensi menjadi salah satu faktor penyumbang limbah plastik HDPE yang tidak dapat didegradasi lingkungan. Salah satu komponen kendaraan bermotor yang umumnya memakai cover plastik HDPE adalah knalpot. Tidak hanya limbah plastik yang masih kurang maksimal dalam pengelolaan tujuan akhirnya, limbah fly ash akibat dari aktivitas pembakaran batu bara di sekitar kawasan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) juga kerap menjadi isu lingkungan.
Fly ash dikategorikan sebagai limbah B3 karena terdapat kandungan oksida logam berat yang akan mengalami pelindihan secara alami dan mencemari lingkungan. Pencemaran ini tentu saja cukup mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat. Menilik permasalahan ini, maka guna mengurangi pencemaran udara ialah perlu dilakukan upaya pengendalian terhadap sumber emisi gas buang kendaraan bermotor. Hal ini berpacu pada hasil konferensi perubahan iklim atau Conference of Parties di Paris tahun 2015 (COP21) yang melahirkan perjanjian global perubahan iklim menuju masyarakat rendah karbon yang memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim dengan mencegah kenaikan temperatur bumi agar tidak melebihi 2 derajat Celcius. Pada momentum ini, Indonesia mengadopsi perjanjian tersebut dan berkomitmen untuk mengurangi emisi gas karbon sebesar 29 persen.
Knalpot BOEING (Sustainable Eco-friendly Driving) merupakan sebuah gagasan terbarukan berkonsep berkelanjutan sebagai solusi dari pencemaran udara dan suara yang tidak kunjung usai, terutama daerah perkotaan besar serta memanfaatkan potensi dari limbah plastik dan fly ash dalam mengurangi angka pencemaran lingkungan. Hal ini dapat dilihat melalui material cover pada knalpot BOEING ini yang dirancang menggunakan komposit berbahan limbah dari serbuk gergaji, sabut kelapa sawit, serta plastik HDPE untuk menciptakan peredam kebisingan berbahan alami. Keempat bahan tersebut kemudian diproses untuk membentuk komposit dengan mencampurkan aditif fenol-formaldehid. Berdasarkan hasil uji, diperoleh hasil bahwa komposit ini berpotensi sebagai peredam kebisingan dengan tingkat efisiensi sebesar 12,69-15,12 persen. Selain itu, serat-serat kayu sisa dipilih sebagai material komposit kayu-plastik sebagai cover knalpot ini karena bahan ini dapat memperkuat sifat-sifat mekanik sehingga kualitasnya akan tetap setara atau bersaing dengan cover knalpot plastik di pasaran.
Tidak berhenti sampai disana, knalpot BOEING juga mengembangkan inovasi penyerapan gas emisi kendaraan bermotor dengan memanfaatkan adsorben limbah fly ash yang diaktivasi terlebih dahulu menggunakan asam sulfat (H2SO4). Berdasarkan pengujian, diperoleh hasil uji bahwa adsorben limbah fly ash ini mampu menurunkan kadar emisi CO kendaraan bermotor dari sebesar 1,09% menjadi 0,20% dengan efisiensi maksimum sebesar 81,65 persen.
Tingginya angka efisiensi adsorben fly ash dalam menyerap emisi kendaraan bermotor serta komposit cover knalpot dari serbuk gergaji, sabut kelapa sawit serta plastik HDPE dalam meredam suara bising menjadikan produk ini patut direalisasikan sebagai aksi penanggulangan fenomena rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Bermodal dengan sesuatu yang selama ini dipandang sebelah mata serta tangan kreativitas siswa, diharapkan dapat mendorong inovasi insan-insan bangsa dalam implementasi SDGs 2045 di lingkungan sekitar terkhususnya untuk mengurangi limbah industri, seperti plastik, fly ash, dan serbuk gergaji guna menjaga keberlanjutan alam dan kesehatan manusia.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.