BREAKING NEWS
 

Dirut BNI Royke Tumilaar Cerita Pahit Getir Jadi Bankir

Reporter : M ADE AL KAUTSAR
Editor : FAQIH MUBAROK
Jumat, 17 Desember 2021 13:28 WIB
Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Royke Tumilaar saat Muda Podcast Series bersama RM.id bertajuk Ekspansi Bisnis Perbankan Nasional yang disiarkan di Channel Youtube BUMN Muda, Kamis (16/12). (Foto: BUMN Muda)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Royke Tumilaar adalah bankir sejati. Pengalamannya di dunia ini lebih dari 32 tahun.

Sebelum duduk sebagai Dirut BNI, Royke Tumilaar adalah Direktur Utama Bank Mandiri pada tahun 2019-2020. Bisa jadi pimpinan tertinggi dua bank BUMN terbesar, pastilah tidak mudah.

Sosok handal ini pasti punya banyak sekali motivasi dan kisah dari perjalanan karier yang menarik disimak. Termasuk strategi dan caranya menghandel krisis. Bagaimana pengalaman saat merasakan masa pahit getir dan kembali bangkit? Tanya Soleh Ayubi, host Muda Podcast, dengan antusias.

Baca juga : Menteri Erick Sering Berbagi Mimpi Dan Peluang

"Pasti ada masa pahit. Apalagi saya termasuk yang ikut mengalami krisis berkali-kali. Yaitu tahun 1998 dan 2008, sampai krisis pandemi, sekarang. Hal-hal yang getir banyak," katanya sambil tersenyum saat Muda Podcast Series bersama RM.id bertajuk Ekspansi Bisnis Perbankan Nasional yang disiarkan di Channel Youtube BUMN Muda, Kamis (16/12).

Tapi, kata Royke, krisis memberikan pelajaran berharga. Kita berupaya dengan segala cara agar survive. "Energi kita keluar semua, demi perusahaan bisa bertahan. Melewati krisis itu momen sangat penting, karena kita jadi menemukan segudang masalah yang menarik untuk dipecahkan," paparnya.

Adsense

Apakah ada satu momen yang mengubah kesedihan atau kegetiran jadi pelecut motivasi, sehingga akhirnya bisa sukses, baik sebagai personal maupun saat jadi leader? Royke menjawab, momennya banyak sekali. Royke tipikal senang dengan tantangan. Misal, di satu bagian tumbuh, tapi bagian lainnya harus diberesin.

Baca juga : Ini Resep Jitu BNI Bertahan Di Pandemi

"Ini challenge. Dan saya sangat seneng, excited kalau disuruh beberes. Munglin memang saya ini tipe seneng beberes kali ya," ujarnya sambil tertawa.

Sebagai bankir yang makan pahit manis dunia perbankan, Royke juga mengalami bedanya jadi bankir dulu dan sekarang. "Dulu, perbankan nggak banyak. Apalagi bank pemerintah. Duduk saja di belakang meja, nasabahnya datang. Likuiditas banyak, dan nasabah perlu kita," katanya.

Tapi, tiba-tiba saja dunia berbalik. Sehingga, dunia perbankan pun berubah. Bank jumlahnya jadi banyak, bank asing pun di mana-maana. Tantangannya berubah. Cara kerja dan cara kita masuk ke pasar pun berbeda.

Baca juga : Dirut BNI: Kalau Nggak Transformasi, Kita Lewat

"Lalu, gaya kerja beda. Kita pro aktif ke pasar. Datang ke customer minta bisnis dan seterusnya. Eh, sekarang lain lagi ceritanya. Dunia digital. Mengubah lagi cara kerja kita," tutur Royke.

Dan dia bersyukur, bisa mengalami dan merasakan semua perubahan itu. "Kalau tidak ikut transformasi dengan baik, ya kita akan lewat," tegasnya. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense