Sebelumnya
Sementara itu, Direktur Risk Management BSI Grandhis H Harumansyah mengatakan, hingga kuartal III-2023 BSI masih menjadi market leader dalam industri perbankan syariah di dalam negeri.
Bahkan BSI tetap mampu tumbuh di atas industri perbankan nasional di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu dan penuh tantangan.
“Laba bersih perseroan tumbuh 31 persen mencapai angka Rp 4,2 triliun per kuartal III tahun 2023. Pertumbuhan ini ditopang oleh pertumbuhan aset dan pembiayaan yang juga meningkat sebanyak dobel digit secara tahunan,” ucapnya.
Dari sisi aset BSI tumbuh 14,23 persen di angka Rp 320 triliun. Lebih tinggi dari aset perbankan nasional yang tumbuh 7,13 persen.
Di sisi pembiayaan, BSI mengalami pertumbuhan sebesar 16 persen menjadi Rp 232 triliun, lebih tinggi dari pembiayaan perbankan nasional yang tumbuh 8,96 persen.
Baca juga : Xavi Akui Barca Lagi Kembang Kempis
“BSI berkomitmen untuk tetap menjadi market leader perbankan syariah nasional dengan membukukan pertumbuhan laba yang positif untuk memberikan imbal hasil yang optimal bagi para pemegang saham dalam jangka panjang,” kata Grandhis.
Salah satu komitmen tersebut akan dicapai dengan menjaga penyaluran pembiayaan yang berkualitas. Sebagai informasi, non-performing financing (NPF) BSI sudah berada di angka 2,21 persen, lebih rendah dibandingkan perbankan nasional dan angka ini terus membaik sejak awal merger.
Pembiayaan didominasi oleh segmen konsumer, gadai dan card sebesar Rp 125,34 triliun, korporasi sebesar Rp 54,39 triliun, mikro tumbuh menjadi Rp 21,45 triliun, SME (Small Medium Enterprise) sebesar Rp 18,62 triliun dan komersial Rp 11,86 triliun.
Kinerja rasio keuangan, ROA (Return of Asset) BSI mengalami peningkatan menjadi 2,34 persen.
Efisiensi juga terus mengalami perkembangan yang baik, BOPO mampu turun dari level 74,02 persen menjadi 71,43 persen.
Baca juga : Bank Mandiri Gelar Edukasi Keuangan Digital Di Kalangan Mahasiswa
BSI juga terus mendukung pertumbuhan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di Indonesia lewat UMKM Center yang tersebar di sejumlah kota. Yaitu, Banda Aceh, Yogyakarta, dan Surabaya, dengan total binaan sebanyak 2.526 UMKM.
Selain itu, BSI juga mendukung penuh pengurangan emisi karbon untuk menciptakan Indonesia bebas emisi karbon atau Nol Zero Emission (NZE) di tahun 2060.
BSI sudah menyalurkan pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp 53,6 triliun atau 23,10 persen dari total pembiayaan perseroan.
Pembiayaan berkelanjutan BSI berfokus pada lima sektor utama yaitu UMKM, produk ramah lingkungan, pertanian dan perkebunan ramah lingkungan, energi bersih dan terbarukan, dan produk hijau lainnya. Seperti, pembangunan gedung ramah lingkungan, industri pengelolaan air, transportasi ramah lingkungan dan pengelolaan limbah.
Saat ini portofolio pembiayaan berkelanjutan di BSI terbesar untuk UMKM sebesar Rp 43,4 triliun, lalu ada produk ramah lingkungan sebesar Rp 4,9 triliun, pertanian dan perkebunan ramah lingkungan Rp 10,9 triliun.
Baca juga : BRIN Desak Bawaslu Jadi Wasit Pemilu Yang Tegas
Kemudian energi bersih dan terbarukan Rp 1,4 triliun dan Rp 600 miliar yang terdiri dari pembangunan gedung ramah lingkungan, industri pengelolaan air, transportasi ramah lingkungan dan pengelolaan limbah lingkungan.
“Selain di dalam negeri, BSI juga sudah go global dengan memiliki cabang penuh di Dubai. Dengan adanya cabang penuh ini, BSI bisa menjalankan serangkaian layanan. Di antaranya transaksi ekspor dan impor, sindikasi, desk capital market, hingga agen untuk sukuk,” pungkas Grandhis.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.