Sejak tahun 2000 hingga 2019, Indonesia mengalami kerugian dan kehilangan pangan dalam jumlah yang signifikan, yaitu antara 23 hingga 48 juta ton per tahun. Hal ini mengakibatkan kerugian ekonomi sebesar Rp 213 hingga 551 triliun setiap tahunnya, yang sebanding dengan 4% hingga 5% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) tahunan Indonesia. Potensi kerugian ekonomi ini bisa jadi cukup signifikan, karena perhitungan kerugian ekonomi didasarkan pada kumpulan data yang mencakup data harga pangan untuk berbagai komoditas, khususnya 64-88 komoditas dari total 146 komoditas.
Sebagian besar kerugian terjadi pada hasil panen, terutama biji-bijian. Tapi jenis ini bekerja dengan baik untuk prosesnya. Jadi, jumlah makanan yang terbuang lebih sedikit daripada yang dimakan. Di sisi lain, sektor hortikultura, terutama sayuran, mengalami kerugian sebanyak tanaman pangan. Namun, prosesnya masih belum terlalu efisien, sehingga banyak sayuran yang terbuang dibandingkan dengan jumlah yang dimakan (BAPPENAS, 2021).
Sementara sampah makanan akan menghasilkan gas metana di udara jika berakhir di tempat pembuangan yang bercampur dengan sampah anorganik. Hal ini dikarenakan sampah tersebut akan terurai tanpa adanya oksigen. Gas metana ini merupakan gas rumah kaca, yang berarti menghangatkan bumi dan mengubah suhu. Faktanya, gas metana memerangkap 25 kali lebih banyak panas di atmosfer daripada karbon dioksida. Emisi gas rumah kaca tahunan rata-rata Indonesia setara dengan 7,29% dari emisi yang disebabkan oleh sampah makanan dan penyusutan makanan (Novitri, 2021).
Indonesia, sebagai negara yang secara aktif terlibat dalam agenda pembangunan global, telah memperkuat dedikasinya untuk mengatasi Food Loss and Waste (FLW) melalui penerapan kebijakan Pembangunan Rendah Karbon (PRK) yang diuraikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Komitmen ini secara khusus ditekankan dalam Prioritas Nasional (PN) 6, yang berfokus pada Pelestarian Lingkungan Hidup, Ketahanan Bencana, dan Perubahan Iklim.
Di bawah prioritas ini, Indonesia telah menetapkan berbagai program utama, termasuk Pertanian Berkelanjutan, Pengelolaan Sampah, dan Ekonomi Sirkular, yang bertujuan untuk mendorong kebijakan yang lebih berkelanjutan dalam mengelola kehilangan dan limbah pangan. Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi dan mengendalikan sampah, terutama sampah makanan, dengan menetapkan target untuk mengurangi sebesar 30% dan mengolah sebesar 70% pada tahun 2025. Komitmen ini merupakan bagian dari program Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (JAKSTRANAS) (Lestari, 2022).
Baca juga : Jalankan Bisnis Pertambangan Berkelanjutan, Grup MIND ID Komit Terapkan Ekonomi Sirkular
Ekonomi sirkular adalah sistem regeneratif di mana material tidak pernah dibuang sebagai limbah dan lingkungan alam dipulihkan. Dalam ekonomi sirkular, tujuannya adalah untuk menjaga sirkulasi produk dan bahan dengan menerapkan prosedur seperti pemeliharaan, penggunaan kembali, perbaikan, produksi ulang, daur ulang, dan pengomposan. Ekonomi sirkular mengatasi perubahan iklim dan isu-isu global lainnya, seperti hilangnya keanekaragaman hayati, limbah, dan polusi, dengan memisahkan aktivitas ekonomi dari penggunaan sumber daya yang terbatas (Ellen MacArthur Foundation, 2020).
Penggunaan Larva BSF (Black Soldier Fly) mampu mengurai sampah organik menjadi kompos yang dapat digunakan dalam kegiatan penanaman atau pertanian (Bahtiar & Kamelia, 2023). Larva BSF memiliki kemampuan untuk mengurai sampah organik dengan memanfaatkan larvanya. Larva mendapatkan sumber energi dan nutrisi dari sampah sayuran, buah-buahan, sisa makanan, bangkai hewan, dan kotoran sebagai sumber makanannya. Larva memiliki kemampuan untuk mengurai sampah organik dalam rentang waktu sekitar 10 hingga 11 hari, yang mengarah pada produksi kompos dan larva segar atau prapupa yang dapat menjadi pakan hewan yang sangat bergizi (Monita, et al, 2017).
Larva Black Soldier Fly (BSF), yang biasa disebut maggot, dapat digunakan sebagai pupuk organik di bidang pertanian. Larva ini memiliki kemampuan tinggi untuk mengurai sampah organik, menghasilkan residu yang dikenal sebagai Black Soldier Fly Larvae Frass (kasgot). Residu ini kaya akan nutrisi yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Residu ini dapat berfungsi sebagai pupuk organik padat untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman karena komposisi haranya. Komposisi nutrisi Black Soldier Fly Larvae Frass (kasgot) yang berasal dari berbagai kombinasi pakan memenuhi standar pupuk organik yang ditetapkan oleh Permentan 2019.
BSFF yang diperoleh dari sampah organik setelah durasi dua minggu memenuhi persyaratan yang ditentukan, yang meliputi kisaran pH 4-9, kandungan karbon organik lebih dari 15%, rasio C/N lebih rendah dari 25, kandungan nutrisi NPK total lebih dari 2%, dan kadar zat besi (Fe) di bawah 500 mg / kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BSFF memiliki potensi untuk menjadi pupuk organik yang efektif untuk tujuan pertanian (Agustin et al, 2023).
PENUTUP
Pemanfaatan larva BSF dan sampah organik berupa limbah makanan dapat mengahasilkan ekonomi sirkular yang baik, dan terjadinya pertanian yang berkelanjutan karena penggunaan bahan organik sebagai pupuk organik yang berupa kasgot (residu larva BSF) sebagai bahan pembuatan pupuk organik yang ramah lingkungan agar tidak adanya residu pada produk pertanian yang ditanam.
DAFTAR PUSTAKA
Baca juga : Telkom Gandeng Jepang Dorong Inovasi Pertanian Keberlanjutan
Agustin, H., Warid, W., & Musadik, I. M.. (2023). KANDUNGAN NUTRISI KASGOT LARVA LALAT TENTARA HITAM (Hermetia illucensi) SEBAGAI PUPUK ORGANIK. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia, 25(1), 12-18. doi:https://doi.org/10.31186/jipi.25.1.12-18
Bahtiar, R., & Kamelia, K. (2023). Ekonomi Sirkular dalam Pengelolaan Sampah Organik Menggunakan Lalat Tentara Hitam. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 29(1), 68-74. doi:https://doi.org/10.18343/jipi.29.1.68
BAPPENAS. (2021). Laporan Kajian- food loss and waste in Indonesia Dalam Rangka Mendukung Penerapan ekonomi sirkular Dan Pembangunan Rendah Karbon – ekonomi hijau. Retrieved from Low Carbon Development Indonesia: https://etuya.id/lcdi/books/laporan-kajian-food-loss-and-waste-in-indonesia-dalam-rangka-mendukung-penerapan-ekonomi-sirkular-dan-pembangunan-rendah-karbon/
Ellen MacArthur Foundation. (2020). What is Circular Economy? Retrieved from Ellen MacArthur Foundation: https://www.ellenmacarthurfoundation.org/topics/circular-economy-introduction/overview
Lestari, A. P. (2022, Januari 31). Kelola Mubazir Pangan/Food Loss and Waste (FLW) untuk Mendukung Pembangunan Rendah Karbon dan Ekonomi Sirkular di Indonesia. Retrieved from Low Carbon Development Indonesia: https://lcdi-indonesia.id/2022/01/31/kelola-mubazir-pangan-food-loss-and-waste-flw-untuk-mendukung-pembangunan-rendah-karbon-dan-ekonomi-sirkular-di-indonesia/
Baca juga : Ini 3 Rekomendasi IDSF Untuk Pengembangan Ekonomi Digital RI
Monita, L., Sutjahjo, S. H., Amin, A. A., & Fahmi, M. R.. (2017). Pengolahan sampah organik perkotaan menggunakan larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens). Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 7(3), 227-234.
Novitri, S. (2021, November 5). Indonesia darurat Sampah Makanan. Retrieved from Greeneration Foundation: https://greeneration.org/publication/green-info/indonesia-darurat-sampah-makanan/
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.