RM.id Rakyat Merdeka - Salah satu cara PT PLN (Persero) mengurangi emisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah melalui teknologi co-firing. Yaitu memasukkan limbah kebun, hutan atau pertanian (dinamai biomassa) sebagai campuran bahan bakar pembangkit listriknya.
Dengan co-firing, penggunaan batu bara berkurang, emisi karbon pun turun.
Dibanding energi baru lainnya, biomassa termasuk yang harganya paling murah. Tapi, tidak mudah mencari pasokan biomassa dalam jumlah besar untuk kebutuhan di PLTU, yang jumlahnya banyak sekali di seluruh Indonesia.
Karena itu, PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) sebagai salah satu sub holding PT PLN (Persero) yang didirikan untuk memastikan ketersediaan pasokan suplai energi primer, mengajak masyarakat di sekitar area pembangkit terlibat dalam bisnis penyediaan material ini.
Berikut wawancara Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati dan Firsty Hestyarini dengan Direktur Utama PLN EPI, Iwan Agung Firstantara, mengenai strategi pengembangan biomassa untuk transisi energi di sektor kelistrikan nasional.
Bagaimana peran PLN EPI dalam mendukung transisi energi di sektor kelistrikan nasional?
PLN EPI sebagai bagian dari grup PLN, mempunyai mandat dalam pelaksanaan net zero emission (nol emisi karbon).
Komitmen ini diwujudkan melalui pembentukan Direktorat Biomassa, yang bertujuan mengkonsolidasi dan memasok biomassa sebagai bagian dari co-dorong bahan bakar di PLTU batu bara.
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan porsi renewable energy (energi terbarukan) dan menurunkan emisi karbon dioksida yang dihasilkan PLTU.
Dari concern itu, PLN EPI telah bisa men-supply pasokan biomassa secara signifikan.
Tahun 2021, kami menyuplai 250 ribu metrik ton biomassa. Tahun 2022, meningkat menjadi 500 ribu metrik ton. Tahun 2023, mencapai 1 juta metrik ton. Naiknya dua kali lipat dan cukup signifikan.
Tahun ini, kita ditargetkan 2,2 juta metrik ton.
Strategi apa saja yang dilakukan PLN EPI untuk mencapai pasokan 2,2 juta ton tersebut?
Pertama, kami memetakan suplai atau sumber pasokan di seluruh Indonesia. Kita identifikasi. Di daerah tertentu misalnya, terdapat pasokan biomassa seperti cangkang sawit, serbuk gergaji.
Di Lampung, ada banyak bonggol jagung dan singkong. Lalu di Nusa Tenggara, ada banyak jenis lain lagi.
Kami petakan semua, mengidentifikasi potensi mana yang bisa dikembangkan menjadi biomassa.
Baca juga : Tidur Pertama di Istana Presiden, Jokowi Senang, Tapi Tidak Nyenyak
Kedua, kami melakukan uji coba biomassa di setiap PLTU. Alhamdulillah, sudah ada 42 PLTU yang siap dipasok dengan biomassa.
Kami juga bekerja sama dengan mitra pemasok, baik langsung dari sumbernya atau melalui agregator di masing-masing daerah.
Hal ini terbukti efektif untuk memenuhi pasokan.
Dengan cara itu, target 1 juta metrik ton pasokan biomassa tahun lalu bisa terpenuhi.
Apakah semua PLTU di PLN dapat menggunakan biomassa?
Semua PLTU yang menggunakan batubara dapat menggunakan biomassa. Untuk jenis-jenis tertentu, bahkan bisa 100 persen menggunakan biomassa.
Dengan pasokan 2,2 juta ton biomassa, maka ini artinya tercapai berapa persen listrik hijau yang bisa dialirkan oleh seluruh pembangkit PLN?
Ketika kami memasok 1 juta metrik ton, itu artinya sudah mencapai 1,5 persen substitusi batubara.
Jadi, dengan 2,2 juta metrik ton, berarti sekitar 3 persen (listrik PLN berasal dari transisi energi).
Target kami di 2025 adalah 10 juta metrik ton. Nanti, tinggal dikalikan saja persentasenya.
Bagaimana cara PLN EPI mencapai target pasokan 10 juta ton di tahun 2025?
Mencapai suplai 10 juta metrik ton membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk kebijakan harga (dari Pemerintah).
Saat ini, harga biomassa masih setara atau 1:1 dengan harga batubara.
Nah alhamdulillah, telah terbit Permen ESDM RI No 12 tahun 2023, yang mengatur insentif sekitar 20 persen. Sehingga, harga biomassa lebih tinggi dari harga batubara.
Ini diharapkan dapat menggairahkan pasar biomassa.
Bagaimana antusiasme pengusaha terhadap pemenuhan kebutuhan biomassa?
Antusiasme cukup besar karena biomassa tumbuh di masyarakat. Ini merupakan pasar yang belum mature, sehingga masih banyak potensi dan peluang yang bisa dikembangkan.
Beberapa perusahaan sudah mulai menginvestasikan untuk mengolah biomassa. Menjadikannya bukan sekadar limbah, tetapi produk bernilai ekonomi.
Baca juga : Hadir Langsung Di Istana, Luhut Menangis Haru Saat Menantunya Dilantik Jadi KSAD
Apakah pengusaha lebih suka mengekspor biomassa? Jika nanti diberlakukan insentif dalam Peraturan Menteri Keuangan, apakah ini bisa jadi daya tarik yang membuat makin banyak pengusaha masuk ke bisnis biomassa?
Tidak sepenuhnya benar pengusaha lebih suka mengekspor biomassa (khususnya cangkang sawit). Karena ada spesifikasi dan harga tersendiri untuk yang kualitas ekspor.
Potensi biomassa ada sekitar 13,5 juta metrik ton. Yang diekspor itu sekarang sekitar 3,3 juta metrik ton. Artinya, potensi dalam negeri masih sangat besar.
Dengan insentif kenaikan harga, diharapkan bisa memberi keseimbangan untuk cenderung ke konsumsi dalam negeri.
Apakah ada upaya-upaya khusus dari PLN untuk menarik pengusaha ke bisnis biomassa?
PLTU memiliki masa ekonomis tertentu. Cukup lama, long live. Bisa 20, 30 bahkan bisa sampai 50 tahun.
Kalau kita nisbatkan bahwa PLTU ini akan hidup misalnya 5 atau 10 tahun lagi, memakai roadmap penggunaan biomassa yang jelas, maka kita bisa lakukan kontrak jangka panjang.
Ini akan menggairahkan para pengusaha untuk menghitung investasi yang dibutuhkan. Dan menciptakan lingkungan bisnis yang menarik.
Terkait pemberdayaan masyarakat, apa saja yang sudah dilakukan PLN EPI? Apakah ada proyek percontohan yang melibatkan masyarakat sehingga satu PLTU 100 persen menggunakan biomassa?
Kami sudah memulai proyek ekonomi sirkular di Gunung Kidul, Jawa Tengah. Sudah berkembang dan alhamdulillah, progress-nya cukup bagus.
Proyek ini berkembang dan menjadi benchmark di beberapa daerah seperti Kalimantan, Aceh, Lampung, dan Jawa Barat.
Metodanya sangat bagus. Masyarakat digerakkan menanam, lalu sebagian dari limbah tanam kita manfaatkan (jadi biomassa).
Apakah sudah ada 100 persen PLTU yang menggunakan bahan bakar biomassa?
Nah ini menjadi tantangan. Saya sudah menawarkan ke teman-teman pengusaha.
Ada beberapa PLTU yang siap mengganti bahan bakarnya dengan biomassa. Asalkan, biomassanya cukup.
Pengusaha biomassa juga ada yang siap kontrak sampai 10 tahun. Mereka mampu menyediakan lahan, siapkan produksi biomassa, serta proses operasional lainnya.
Silakan, kami terbuka kalau ada pengusaha yang berminat.
Berapa banyak pengusaha yang sudah menjalin kerja sama dengan PLN EPI?
Baca juga : Relawan Petebu Ganjar Beri Bantuan Pembangunan Rumah Singgah Bagi Seniman Sunda
Saat ini, ada lebih dari 80 pengusaha yang bekerja sama dengan kami. Ada yang menyuplai langsung dari produksi mereka sendiri, atau menjadi agregator dari masyarakat yang berada di sekitar PLTU.
Alhamdulillah, ini berjalan baik dan terus berkembang.
Apa saja kelebihan biomassa dibandingkan jenis energi transisi lain?
Pertama, biomassa sumbernya dari daerah kita sendiri. Potensinya di dalam negeri sangat besar. Bahkan, negara kita tergolong penyedia biomassa terbesar di dunia.
Biomassa digunakan sebagai bahan bakar di PLTU yang sudah ada. Sehingga, tak perlu investasi tambahan. Hanya tinggal mengganti atau mencampur bahan bakar batu bara dengan biomassa saja.
Sehingga, harganya paling murah dibanding renewable energy yang lain, seperti hydropower, geotermal atau solar.
Kedua, merujuk perhitungan, harga energi dari PLTU biomassa sekitar 4,5-5 sen per KwH.
Sedangkan kalau membangun hydropower, harga listriknya sekitar 7,8 sen per KwH dan geothermal sekitar 10-11 sen per KwH.
Jadi, biomassa di PLTU jelas paling murah. Sangat murah.
Tantangan tersulit dalam pengembangan pembangkit biomassa ini apa saja?
Yang paling sulit adalah ketersediaan atau stok. Secara teknis, tidak ada masalah. Secara keuangan, juga masih bisa dalam volume tertentu.
Jika nanti (keluar aturan Pemerintah) pemberian insentif, volume biomassa akan lebih besar. Ini akan jadi tantangan lagi.
Biomassa memang unik. Kalau butuh sedikit, harganya murah. Tapi saat banyak, harganya jadi mahal. Karena ketersediaannya tidak gampang.
Bagaimana model bisnis atau sirkular ekonomi untuk pengembangan biomassa yang melibatkan masyarakat?
Kita memberi ruang kepada masyarakat, atau mereka yang menggerakkan masyarakat untuk mengolah biomassa yang ada di sekitar PLTU.
Dikelola dengan ekonomis dan memasok ke PLTU dengan mendapatkan profit. Jadi, bisnis biomassa ini akan berkah untuk rakyat, negara dan lingkungan.
Kami memohon dukungan kepada semua stakeholder terkait biomassa. Karena energi dari biomassa adalah cara terbaik dan paling murah dalam kontribusi memperbesar bauran renewable energy. Menggunakan aset yang sudah ada, dan kita memanfaatkan resources yang tersedia cukup besar di negeri kita sendiri.
Indonesia negara agraris, bisa menciptakan renewable energy yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.