RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memantau kinerja sektor industri dalam negeri di tengah tantangan ekonomi global. Dinamika ekonomi global berpengaruh pada industri manufaktur yang menjadi salah satu kontributor utama perekonomian nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui adanya penutupan sejumlah pabrik dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa sektor industri. “Kami menyampaikan empati kepada perusahaan industri dan pekerja yang terdampak. Kemenperin terus berupaya meningkatkan investasi baru di sektor manufaktur dan mendorong munculnya industri baru agar dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak,” ujar Agus di Jakarta, Selasa (4/3).
Meski demikian, Agus menegaskan, sektor manufaktur tetap menunjukkan tren positif dalam penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), jumlah tenaga kerja baru yang diserap industri manufaktur sepanjang 2024 mencapai 1.082.998 orang. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding jumlah PHK yang dilaporkan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) pada tahun yang sama, yakni 48.345 orang di seluruh sektor ekonomi.
Baca juga : Korea Aerospace Industries & PT PDS Kerja Sama Latih Tenaga Ahli Kedirgantaraan
“Data ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan industri manufaktur baru yang mulai berproduksi dan mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak dibanding jumlah pekerja yang mengalami PHK di berbagai sektor,” kata Agus.
Jumlah tenaga kerja di sektor industri pengolahan nonmigas mengalami peningkatan dari 17,43 juta orang pada 2020 menjadi 19,96 juta orang pada 2024. Data SIINas juga mencatat bahwa rasio penambahan tenaga kerja baru di sektor manufaktur terhadap jumlah tenaga kerja yang terkena PHK mencapai 1:20 pada 2024. Artinya, setiap satu pekerja yang terkena PHK, sektor manufaktur mampu menciptakan 20 tenaga kerja baru.
“Rasio ini terus meningkat dari tahun ke tahun, dari 1:5 pada 2022, menjadi 1:7 di 2023, hingga 1:20 di 2024. Ini menunjukkan bahwa kinerja industri manufaktur Indonesia semakin baik dalam menyerap tenaga kerja,” jelas Agus.
Baca juga : Launching Hi By Hibank Targetkan 1 Juta Nasabah BaruÂ
Terkait maraknya pemberitaan mengenai penutupan pabrik dan PHK massal, Agus menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena berbagai alasan, seperti penurunan permintaan ekspor, kesalahan manajemen perusahaan, perubahan strategi bisnis, serta ketertinggalan dalam adopsi teknologi yang membuat produk kalah bersaing.
“Sebagian besar penutupan pabrik disebabkan oleh turunnya permintaan domestik akibat pasar dalam negeri yang dibanjiri produk impor. Selain itu, pelemahan daya beli masyarakat dan kelangkaan bahan baku juga menjadi faktor penyebab PHK,” paparnya.
Agus menegaskan, pemerintah tidak dapat sepenuhnya mengendalikan faktor eksternal seperti lemahnya permintaan pasar ekspor. Namun, Kemenperin tetap fokus memonitor industri yang terdampak akibat kelangkaan bahan baku dan kebutuhan peningkatan teknologi produksi.
Baca juga : Meroket, Investasi Manufaktur Tahun Lalu Tembus Rp 721 Triliun
“Kami akan mencari solusi agar industri tetap bisa bertahan dan berkembang. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara berbagai pemangku kepentingan yang memiliki kewenangan dalam kebijakan terkait, seperti penerapan safeguard, pembatasan impor (lartas), dan kebijakan non-tariff barrier (NTB),” jelasnya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, Kemenperin optimistis bahwa sektor industri manufaktur akan terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional, termasuk dalam hal penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.