BREAKING NEWS
 

Stok Awal 12,5 Juta Ton, Stop Impor Beras Lanjut Di 2026

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Minggu, 4 Januari 2026 08:11 WIB
Beras Bulog. (Foto: Dwi Pambudi/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Seperti pada tahun 2025, Pemerintah memastikan tidak akan membuka keran impor beras pada 2026. Hal ini menyusul stok beras di awal tahun sudah mencapai 12,529 juta ton. Jumlah tersebut naik 203 persen dibandingkan stok awal 2024, juga tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan, stok beras 12,529 juta ton itu, cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa mengatakan, atas dasar stok tersebut, Forum Neraca Komoditas Tahun 2026 memutuskan secara mufakat untuk menyetop impor beras.

Forum yang dilaksanakan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan tersebut sepakat tidak menetapkan kuota impor beras umum dan beras industri pada 2026. Kebijakan ini juga telah diterapkan pada 2025, ketika Indonesia tidak melakukan impor beras umum.

“Pemerintah memutuskan tidak perlu impor beras. Begitu juga gula konsumsi, maupun jagung pakan pada 2026 karena stok dan produksi nasional dinilai kuat,” ujar Astawa, Sabtu (3/1/2026).

Baca juga : Kehidupan Aceh Perlahan Pulih

Rinciannya, carry over stock dari 2025 ke 2026 mencapai 12,529 juta ton, termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog sebanyak 3,248 juta ton per 31 Desember 2025. Sementara itu, kebutuhan konsumsi bulanan hanya 2,591 juta ton. Dengan demikian, stok tersebut mampu memenuhi kebutuhan hingga Mei 2026.

Selain stok yang berlimpah, Bapanas juga memproyeksikan produksi beras nasional sepanjang 2026 mencapai 34,7 juta ton. Jika ditotal, stok beras nasional hingga akhir tahun diperkirakan mencapai 16,194 juta ton. Menariknya, ekspor beras diproyeksikan sekitar 71 ton.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman juga optimistis, ketersediaan beras nasional berada dalam kondisi aman. Ia bahkan meyakini kebutuhan beras selama Ramadan dan Lebaran dapat terkendali.

Adsense

“Inilah stok tertinggi di akhir tahun selama Indonesia merdeka. Bukan aman, tetapi sangat aman. Sekarang tanpa impor, stok kita (CBP) lebih dari 3 juta ton. Itu tertinggi sepanjang sejarah. Beras kita surplus,” ujar Amran.

Meski demikian, ia mengungkapkan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, Pemerintah akan terus berkomitmen menjaga kesejahteraan petani lokal sepanjang 2026. Presiden berpesan agar petani tidak dirugikan.

Baca juga : KUHP Dan KUHAP Baru Resmi Berlaku, Indonesia Tinggalkan Hukum Era Kolonial

“Petani dalam negeri kita tidak boleh rugi. Hasil kerja keras mereka harus dapat disalurkan secara luas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia,” tegas Amran.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memprediksi produksi beras pada 2026 akan terus meningkat. Dengan kondisi tersebut, stok beras nasional dipastikan aman dan tidak memerlukan impor.

“Tahun ini surplus beras kita besar, jadi tidak impor. Tahun 2026 ini tidak impor dan produksinya akan meningkat. Jadi stok aman,” kata pria yang akrab disapa Zulhas saat berada di Pendopo DPRD Kota Salatiga, Jumat (2/1/2026).

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan, komitmennya untuk tidak melakukan impor beras sepanjang 2026. Kebutuhan beras nasional akan dipenuhi sepenuhnya melalui penyerapan hasil panen dalam negeri dengan skema pembelian gabah langsung dari petani.

Rizal mengatakan, sejak 2025 Pemerintah telah menghentikan impor beras dan memfokuskan kebijakan pada pemanfaatan produksi petani lokal. Bahkan, apabila terdapat peluang dan permintaan dari luar negeri, Indonesia siap membuka opsi ekspor beras.

Baca juga : Buka Perdagangan, Purbaya: IHSG Bisa Ke 10.000

Untuk mendukung optimalisasi penyerapan tersebut, Pemerintah telah mengalokasikan anggaran khusus kepada Bulog. Melalui dana ini, Bulog dapat membeli Gabah Kering Panen (GKP) petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Proses pembelian dilakukan langsung di lokasi panen.

Rizal menjelaskan, pola pembelian langsung di sawah terbukti memberikan manfaat nyata bagi petani, terutama dalam hal kepastian harga. Setelah panen, gabah langsung ditimbang dan dibeli sesuai ketentuan Bulog sehingga petani tidak perlu khawatir terhadap fluktuasi harga di pasar.

Ke depan, Bulog juga berencana memperkuat sistem serapan gabah melalui penerapan digitalisasi transaksi. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan keamanan transaksi, mempermudah pendataan, serta menjamin transparansi dalam setiap proses pembelian. Dengan pencatatan berbasis daring, seluruh transaksi dapat dipantau secara real time.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense