RM.id Rakyat Merdeka - Di awal tahun ini, perkembangan ekonomi nasional sedang naik turun. Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat dan terus mencatatkan rekor, tapi rupiah melemah terhadap dolar AS. Kemarin terjadi sebaliknya. IHSG melemah ke bawah 9.000, tapi giliran rupiah menguat menjauhi level Rp 17 ribu per dolar AS.
Rupiah dibuka menguat ke level Rp 16.780 per dolar AS pada perdagangan Selasa (27/1/2026), naik 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.782. Hingga akhir perdagangan, rupiah melanjutkan penguatan sebesar 14 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 16.768 per dolar AS.
Di tengah penguatan rupiah yang semakin menjauh dari level Rp 17.000, IHSG justru bergerak melemah. Pada pembukaan perdagangan Selasa, IHSG turun ke level 8.974 dan di tutup menguat tipis ke posisi 8.980,23. Padahal pada perdagangan sebelumnya, IHSG sempat bergerak di atas level 9.000.
Baca juga : Tangkap Dan Miskinkan Bandarnya
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, pergerakan nilai tukar rupiah mencerminkan langkah Bank Indonesia (BI) yang semakin solid dalam mengelola kebijakan moneter. “Bank sentral sudah bekerja lebih baik dari yang sebelumnya saya perkirakan,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Ia menambahkan, Pemerintah sepenuhnya mempercayakan pengelolaan stabilitas nilai tukar kepada BI. Dalam waktu relatif singkat, kebijakan yang ditempuh BI mampu mendorong penguatan rupiah.
Selain faktor domestik, kondisi global juga turut mendukung, seiring kecenderungan pelemahan dolar AS dan penguatan yen Jepang yang biasanya berdampak pada pergerakan mata uang lain dalam jangka menengah hingga panjang.
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Kami Akan Formulasikan Lewat Kodifikasi 3 UU
“Kalau kita cermati, seharusnya rupiah relatif mudah untuk diperkuat lebih jauh dari level sekarang,” ujar mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut.
Dari sisi fiskal, Purbaya menegaskan, tugas Kementerian Keuangan (Kemenkeu) adalah memastikan seluruh program ekonomi berjalan dengan baik agar fondasi ekonomi semakin kuat. Dengan fundamental yang solid, kepercayaan investor diyakini meningkat dan mendorong masuknya modal ke pasar domestik, yang pada akhirnya turut memperkuat rupiah dan IHSG.
“Kewajiban saya memastikan program-program ekonomi berjalan dengan baik dan fondasi ekonomi kuat. Perbaikan ekonomi bukan hanya di atas kertas, tetapi benar-benar kita wujudkan,” tuturnya.
Baca juga : Iman Zanatul Haeri: Tak Menyentuh Angka Kebutuhan Minimum
Purbaya juga optimistis pertumbuhan ekonomi pada 2026 dapat mencapai 5,4 persen, meningkat dibandingkan proyeksi pertumbuhan 2025 yang berada di kisaran 5,2 persen. Optimisme tersebut didorong oleh peningkatan permintaan domestik serta sinergi kebijakan pemerintah bersama lembaga-lembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.