Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Di Podcast Ngegas, Kepala BNN Bicara Perang Melawan Narkoba
Tangkap Dan Miskinkan Bandarnya
Rabu, 28 Januari 2026 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Suyudi Ario Seto punya gebrakan baru dalam memutus mata rantai penyebaran narkoba. Para bandar tidak cukup hanya ditangkap, tapi harus dimiskinkan hartanya sampai ke akar-akarnya.
Ancaman ini diucapkan Suyudi saat menjadi narasumber di Podcast Ngegas yang dipandu editor Rakyat Merdeka Siswanto di Gedung BNN, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026).
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Suyudi Ario Seto bersama editor Rakyat Merdeka Siswanto dalam podcast Ngegas Rakyat Merdeka. (Foto: Fitri/RM.id)
Suyudi menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto untuk perang melawan narkoba. Baginya, pernyataan Presiden tersebut menjadi suntikan energi dan moral yang luar biasa.
Menurutnya, perang melawan narkoba bukan hanya sekadar slogan, tetapi mandat tertinggi negara. Selain juga sejalan dengan visi Asta Cita untuk menyela matkan kualitas SDM dari kerusakan narkoba.
“Tidak mungkin kita bicara Indonesia Emas 2045 jika generasinya banyak yang terjangkit narkoba,” tegas Suyudi.
Mantan Kapolda Banten ini menegaskan, ada sejumlah kebijakan yang dilakukan BNN untuk perang melawan narkoba. Pertama, penajaman kebijakan. Yakni, melakukan kajian dan perumusan kebijakan yang lebih tegas dalam pemberantasan narkoba. Kedua, peningkatan penindakan. Yakni, melalui operasi terpadu yang lebih agresif dan terkoordinasi dengan Polri maupun instansi lain.
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Kami Akan Formulasikan Lewat Kodifikasi 3 UU
“Termasuk penguatan pengawasan di jalur distribusi, pelabuhan, dan bandara sebagai pintu masuk utama peredaran narkotika,” urai Suyudi.
Ketiga, penguatan rehabilitasi melalui Rehabilitasi Keliling (Re-Link) dan memanfaatkan metode daring (Tele-Rehab). Keempat, edukasi masyarakat. BNN secara masif melancarkan kampanye nasional untuk meningkatkan kesadaran bahaya narkoba.
Kelima, koordinasi dengan institusi lain. BNN memperkuat kerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Ditjen Bea Cukai, maupun aparat penegak hukum lainnya. Keenam, penguatan regulasi.
Suyudi berharap, kebijakan ini memberikan efek yang lebih keras dan tegas bagi pelaku pengedar narkoba, dan mempersempit ruang geraknya. Suyudi mengatakan, perang melawan narkoba tidak boleh dimaknai secara sempit. Yakni, membangun benteng agar putra-putri Indonesia tidak menjadi korban. BNN punya gerakan bernama Aksi Nasional Anti Narkoba Dimulai Dari Anak Bersih Narkotika (Ananda Bersinar).
Terlebih, peredaran perkembangan narkoba terus mengalami perkembangan di Indonesia. Kata Suyudi, perkembangan ini tidak lepas dari tren global. Berdasarkan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), pengguna narkoba di dunia naik 23 persen dari 2011-2021.
“Jadi ini gelombang besar yang sedang melanda dunia. Dampaknya terasa di Indonesia,” ungkap lulusan Akademi Kepolisian tahun 1994.
Baca juga : Iman Zanatul Haeri: Tak Menyentuh Angka Kebutuhan Minimum
Berdasarkan riset BNN dengan BRIN dan BPS, angka relevansinya berada di angka 2,11 persen. Rinciannya, ada sekitar 4,15 juta yang terpapar pada usia 15-64 tahun. Suyudi khawatir lantaran pasar terbesarnya berada di kelompok produktif. “Ini sinyal bahwa generasi emas kita diincar,” katanya.
Namun, Suyudi memastikan negara merespons sangat keras. Tahun 2025 saja, BNN berhasil mengungkap jaringan internasional dengan barang bukti 2 ton sabu dan menangkap buronan kelas kakap berinisial DA, dan memiskinkan bandarnya melalui penyitaan aset Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) senilai lebih dari Rp 104 miliar.
Soal modus operandi, Suyudi melihat adanya transformasi yang sangat cepat. Sindikat narkoba sudah melek teknologi jarang transaksi tatap muka, memanfaatkan dark web, hingga transaksi kripto.
Bahkan, ancamannya makin menyusup ke gaya hidup anak muda. Contohnya, vape. Dari ratusan sampel liquid vape yang diuji di laboratorium BNN, banyak yang dicampur zar baru, seperti etomidate atau narkotika sintetis lainnya.
Kata Suyudi, kondisi ini merupakan wajah baru peredaran narkoba yang lebih digital, lebih tersembunyi, dan lebih variatif jenisnya melalui new psychoactive substances atau NPS. “Saya selalu tekankan, strategi kita harus selalu satu langkah di depan mereka,” tegasnya.
Benarkan peredaran narkoba tembus ratusan triliun per tahun? Kata Suyudi, angka ratusan triliun bukan sekadar statistik di atas kertas. Namun, itu gambaran betapa raksasanya perputaran uang di bisnis ini.
Baca juga : Senayan Dukung Upaya Nyata Perbaiki Kerusakan Lingkungan
Ia juga mengakui banyak oknum yang imannya goyah. Kenapa? Kata dia, ibarat pepatah, dimana ada gula, di situ ada semut. Terlebih, bisnis narkoba merupakan industri dengan kekuatan modal yang sangat masif, dan keuntungan yang luar biasa besar.
Suyudi mengatakan, kekuatan financial mereka gunakan sebagai “senjata” untuk membeli proteksi, informasi, bahkan mencoba membeli kewenangan dari oknum aparat. “Betapa sulitnya perjuangan kita jika terjadi fenomena ‘pagar makan tanaman’,” tuturnya.
Aparat yang seharusnya jadi ujung tombak pemberantasan justru berbalik jadi pelindung karena “silau” dengan tawaran materi. Suyudi menganggap ini sebagai bentuk abuse of power yang sangat berbahaya.
Lantas, apa yang dilakukan BNN? Strateginya tidak cukup dengan menangkap pelakunya. Suyudi akan menghancurkan hingga urat nadi keuangannya melalui penerapan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) secara agresif tanpa pandang bulu.
“Kita harus miskinkan para bandar dan oknum yang terlibat sampai ke akarnya. Logikanya, jika uangnya disita, asetnya dibekukan, maka kemampuannya untuk menyuap dan membayar beking akan mati dengan sendirinya,” pungkas Suyudi. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya