RM.id Rakyat Merdeka - Penyebaran virus corona telah berdampak terhadap perekonomian global dan nasional.
Termasuk mengganggu proses pembangunan smelter di sektor pertambangan. Direktur Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bambang Gatot Ariyono mengatakan, meski harga mineral saat ini masih terpantau stabil, proses pembangunan mulai terganggu.
“Cepat atau lambat pasti ada pengaruhnya. Memang, untuk saat ini perusahaan masih belum menyampaikan hal-hal yang menyangkut gangguan harga,” kata Bambang di kantornya, Jakarta, kemarin.
Dilanjutkan Bambang, dirinya baru saja melakukan kunjungan kerja untuk memantau perkembangan smelter di Sulawesi Tenggara (Sultra). Di sana, ia menemukan virus corona berdampak pada penyerapan tenaga kerja.
“Kebetulan saya mengalami sendiri datang ke tambang Virtue Dragon di Sultra, yang masih tahap pembangunan. Di sana pengerjaan tambang terganggu karena tenaga kerja China, yang pulang tak bisa masuk kembali akibat corona,” paparnya.
Baca juga : Corona Masuk Indonesia, Pagelaran IIMS Tetap Sesuai Jadwal
Bambang menuturkan, sekitar 300 hingga 400 pekerja China belum bisa kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Jadi yang masih berjalan dan sudah berjalan (sudah produksi), sepertinya tidak mengalami gangguan tapi yang masih konstruksi mengalami gangguan,” jelasnya.
Seperti diketahui, Kementerian ESDM menargetkan, pembangunan 52 fasilitas pemurnian atau smelter hingga 2023 dengan rencana investasi 20,4 miliar dolar AS.
Saat ini, telah ada 17 smelter eksisting dengan rincian 11 smelter nikel, dua smelter bauksit, satu smelter besi, dua smelter tembaga, dan satu smelter mangan.
Ada pun rencananya akan ada penambahan 18 smelter nikel, tujuh smelter bauksit, tiga smelter besi, dua smelter tembaga, satu smelter mangan dan empat smelter timbal dan seng.
Baca juga : Di Atas Tenang, Di Bawah Tegang
Bambang melanjutkan, pihaknya tahun ini juga menurunkan target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), tahun 2020 dari sektor mineral dan batu bara (minerba) sebesar Rp 44,34 triliun.
Angka ini lebih rendah dibanding dengan realiasi tahun 2019 sebesar Rp 45,59 triliun.
Target PNBP tahun ini menurun karena dipengaruhi oleh faktor harga. “PNBP tahun ini memang targetnya lebih kecil dari pada penerimaan 2019 karena kita tahu PNBP sangat dipengaruhi faktor harga,” kata Bambang.
Menurutnya, setoran PNBP mayoritas berasal dari batubara. Dia bilang, batubara berkontribusi sekitar 80 persen terhadap PNBP. Sementara, jika dibandingkan 2019, harga batubara cenderung mengalami penurunan.
“Harga sekarang dibanding 2019 sangat turun, pada waktu kemarin 80-90 dolar AS sekarang rata-rata 60 an dolar AS. Makanya, target juga kita sesuaikan,” tegasnya.
Baca juga : Luhut Geram Pembangunan Smelter Di Sorong Lambat
Sementara, Staf Khusus Menteri ESDM, Irwandy Arif menilai, selain corona, anjloknya harga minyak juga akan mengganggu kinerja sektor minerba tahun ini.
Salah satu yang terdampak adalah batubara yang struktur cost terbesarnya berasal dari kontraktor dan energi, yang dalam hal ini adalah minyak.
Menurutnya, bahkan China sudah mengurangi permintaan untuk enam power producer dari batubara. Kini permintaannya sudah berkurang sampai 200.000 ton.
Pengurangan itu dinilai masih kecil jumlahnya, maka belum ada pengaruh signifikan yang terlihat. Ia memprediksi dampak nyata dari wabah ini baru akan terlihat pada bulan Juni sampai akhir tahun ini.
“Pengaruhnya ke tambang kita. China kan menutup permintaan sampai 1 April. Kemudian yang terjadi dari stok harga pasar batubara dari kalori 4.200 beberapa bulan lalu harganya 36 dolar AS. Kemudian ada yang kontrak di bulan April sampai 32,5 dolar AS, jadi ada penurunan,” kata dia. [NOV]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.