Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tak Ingin Situasi Memburuk
Indonesia Ajak Semua Pihak Cegah Eskalasi Ketegangan Di Timur Tengah
Senin, 13 Januari 2020 11:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia berusaha melakukan berbagai upaya untuk mencegah eskalasi ketegangan di Timur Tengah pasca-serangan drone Amerika Serikat (AS) yang menewaskan Jenderal Iran, Qassem Soeleimani di Baghdad, Irak, awal bulan ini.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan, Indonesia sudah berbicara dengan Amerika Serikat dan Iran di tingkat Dewan Keamanan, dan sudah berusaha untuk men-deputation, meng-encourage semua pihak agar eskalasi yang lebih jelek tidak terjadi lagi.
“Saya melakukan pembicaraan per telepon tanggal 8 malam berarti 9 pagi, karena pada saat itu Menteri Luar Negeri Vietnam baru mendarat di New York. Vietnam untuk Januari ini bertindak sebagai Presiden dari Dewan Keamanan PBB. Saya melakukan pembicaraan, saya mengulangi lagi spot Indonesia terhadap presidency Vietnam,” kata Retno kepada wartawan di Emirate Palace, Abu Dhabi, Uni Emirad Arab (UEA), Minggu (12/1) malam.
Baca juga : Menlu: Indonesia Tak Akan Pernah Akui Klaim China
Indonesia, lanjut Retno, mengharapkan Vietnam juga menggunakan pengaruhnya sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB agar semua pihak terkait dapat menahan diri sehingga tidak terjadi lebih buruk lagi. “Jadi, kita cukup banyak untuk mengirimkan pesan, untuk meng-encourage agar eskalasi yang lebih jelek tidak terjadi lagi,” tegasnya.
Mengenai apakah masalah tersebut dibicarakan dengan UEA, Retno mengemuakan, pada pertemuan dengan Menlu UEA dirinya juga membahas masalah tersebut, dan prinsip keduanya sama. “Kita tidak ingin situasi, apa namanya, menjadi lebih memburuk,” ujarnya.
Presiden Jokowi pun, sambung Retno, juga sedikit menyinggung masalah ketegangan di Timur Tengah tersebut dalam pertemuan dengan Pangeran Sheikh Mohammed Bin Zayed (MBZ). Namun pembahasan ini tidak fokus, karena fokus pembahasan dalam pertemuan keduanya lebih kepada masalah ekonomi.
Ratusan WNI
Ditegaskan Retno, semua negara khawatir dengan kemungkinan terjadinya perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran. Indonesia pun yang posisinya jauh juga khawatir karena perang tidak akan menguntungkan siapapun. “Perang itu akan berpengaruh pasti terhadap ekonomi dunia yang sudah tanpa perang pun sudah tertekan, tertekan terus ke bawah,” kata Retno.
Buat Indonesia, yang sangat langsung adalah nasib warga negara kita. Karena di Iran, kalau menurut data yang ada, jumlah WNI yang ada di sana lebih dari 400. Sementara di Irak lebih dari 800. Namun diperkirakan jumlah yang ada lebih besar dari data yang diterima.
Baca juga : Ajak Pelajar Islam Indonesia, Kemenpora Literasi Pranikah di Cirebon
“Belum lagi kita bicara mengenai WNI yang tinggal di sekitar wilayah itu yang kalau ditotal bisa jumlahnya jutaan. Jadi, kalau situasinya tidak dapat dieskalasi, diredakan pasti akan terpengaruh kepada warga negara kita, tetapi sekali lagi untuk antisipasi,” pungkas Retno. [WHY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya