RM.id Rakyat Merdeka - Program elektrifikasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto dinilai menjadi solusi strategis dalam mengantisipasi potensi krisis energi akibat perang di Timur Tengah.
Pengamat energi yang juga Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, ketergantungan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih mencapai sekitar 30 persen dalam bauran energi nasional, membuat komoditas tersebut rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga internasional.
“Elektrifikasi di sektor rumah tangga dan transportasi dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM. Di tengah situasi saat ini, kompor listrik bisa menjadi salah satu alternatif utama karena listrik tidak harus bergantung pada minyak dan gas (migas),” kata Komaidi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, kompor listrik memiliki keunggulan dari sisi fleksibilitas sumber energi. Pasalnya, listrik dapat diproduksi dari berbagai sumber domestik seperti batubara, gas, air dan panas bumi.
Selain sektor rumah tangga, kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) juga berperan penting dalam menekan konsumsi BBM nasional.
Baca juga : Transjakarta Jangkau 92 Persen Wilayah Jakarta
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumsi BBM mencapai sekitar 532 juta barel per tahun, dengan sektor transportasi menyumbang sekitar 52 persen.
“Kendaraan listrik dapat membantu mengurangi ketergantungan pada BBM impor. Dalam jangka panjang, ini juga dapat meningkatkan ketahanan energi sekaligus menekan beban subsidi energi,” jelasnya.
Komaidi juga mengapresiasi berbagai insentif yang telah diberikan Pemerintah untuk mendorong percepatan elektrifikasi. Mulai dari pembebasan pajak, subsidi pembelian, hingga kebijakan bebas ganjil-genap di sejumlah wilayah.
“Dengan sosialisasi yang lebih masif dan dukungan kebijakan yang konsisten, kompor listrik dan kendaraan listrik berpotensi menjadi bagian penting dalam strategi memperkuat ketahanan energi nasional,” katanya.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Kholid Syeirazi mengatakan, elektrifikasi di sektor rumah tangga dan transportasi berpotensi menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Khususnya BBM dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Baca juga : Bosnia Vs Italia, Tegang Dan Traumatis
“Kalau nanti semuanya elektrifikasi, termasuk sektor transportasi dan rumah tangga, pasar bisa semuanya beralih ke listrik,” kata Kholid.
Kendati begitu, peralihan tersebut tidak akan terjadi sepenuhnya karena perbedaan kebutuhan energi di setiap sektor.
“Tidak mungkin misalnya BBM beralih ke listrik semua, bensin beralih ke listrik semuanya,” tambahnya.
Kholid menjelaskan, sejumlah sektor masih membutuhkan energi dengan tingkat panas tinggi yang belum sepenuhnya dapat digantikan oleh listrik, seperti usaha kuliner dan industri tertentu.
Menurutnya, strategi energi nasional tetap mengedepankan bauran energi dengan memanfaatkan berbagai sumber secara optimal.
Baca juga : Hasil Moto3 Amerika, Veda Kecelakaan Hakim Melesat...
Selain elektrifikasi, Pemerintah juga mendorong pengembangan jaringan gas rumah tangga dan diversifikasi energi lainnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto merencanakan percepatan penggunaan kendaraan listrik secara menyeluruh. Mulai dari sepeda motor hingga truk, sebagai bagian dari upaya efisiensi energi.
“Semua motor akan dikonversi menjadi motor listrik. Semua mobil, semua truk, semua traktor harus tenaga listrik,” kata Prabowo di Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/3/2026).
Menurut Prabowo, peralihan ke kendaraan listrik dapat menjadi langkah besar dalam menekan biaya energi. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Selasa, 31 Maret 2026 dengan judul "Bidik Sektor Rumah Tangga Dan Transportasi Elektrifikasi Menjadi Solusi Menuju Ketahanan Energi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.