BREAKING NEWS
 

Ekonom: Independen BI Bukan Berarti Berseberangan Dengan Pemerintah

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Kamis, 13 Agustus 2026 14:33 WIB
Wakil Rektor Universitas Paramadina Handi Risza Idris. (Foto: Universitas Paramadina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonom sekaligus Wakil Rektor Universitas Paramadina Handi Risza Idris menilai, independensi Bank Indonesia (BI) tidak berarti bank sentral berjalan tanpa koordinasi dengan Pemerintah. BI tetap perlu berkoordinasi dengan Pemerintah, namun memiliki ruang untuk mengambil keputusan berdasarkan mandat dan penilaian profesional.

Menurut Handi, Undang-Undang Bank Indonesia (UU BI) secara tegas mengatur kewajiban BI untuk berkoordinasi dan berkonsultasi dengan Pemerintah. Hal itu karena kebijakan moneter tidak dapat berjalan secara terpisah dari kebijakan ekonomi lainnya.

Ia menjelaskan, pengendalian inflasi membutuhkan sinergi dengan kebijakan pangan dan jalur distribusi. Sementara itu, stabilitas nilai tukar membutuhkan dukungan penguatan ekspor, peningkatan investasi, serta perbaikan neraca pembayaran.

Handi menambahkan pertumbuhan ekonomi juga membutuhkan bauran kebijakan fiskal, investasi, industri, serta reformasi struktural. Oleh karena itu, koordinasi antara Pemerintah dan BI menjadi sebuah keharusan dalam menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Baca juga : Menuju Kursi Gubernur Bank Indonesia, Jalan Destry Diprediksi Mulus

Namun, dia menegaskan, koordinasi tersebut berbeda dengan subordinasi. Koordinasi berarti Pemerintah dan bank sentral duduk bersama untuk berbagi informasi dan menyelaraskan kebijakan, sedangkan subordinasi membuat bank sentral kehilangan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan mandat dan penilaian profesionalnya.

“Independensi Bank Indonesia bukanlah hambatan bagi pemerintah, melainkan salah satu pagar pengaman bagi stabilitas perekonomian nasional,” kata Handi dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Kamis.

Adsense

Menurut dia, Indonesia tidak membutuhkan bank sentral yang sekadar mengikuti arah angin politik. Indonesia membutuhkan lembaga independen yang mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian dan tantangan global.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo yang memicu perhatian pasar. Kondisi tersebut juga meningkatkan kekhawatiran publik terhadap arah kebijakan moneter serta independensi bank sentral ke depan.

Baca juga : BI Prediksi Penjualan Eceran Juli 2026 Tumbuh 0,9%, Ini Pendorongnya

Handi mengatakan, penunjukan gubernur BI yang baru akan menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan. Pemimpin baru tersebut mengemban mandat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta memperkuat ketahanan sistem keuangan.

Selain itu, gubernur BI mendatang perlu meningkatkan sinergi dengan kebijakan fiskal serta memperkuat koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sinergi tersebut penting untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

Menurut Handi, BI dapat menjalankan mandatnya melalui bauran kebijakan atau policy mix. Instrumen tersebut mencakup suku bunga, kebijakan makroprudensial, operasi pasar, serta penguatan sistem pembayaran digital.

Bauran kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. Pada saat yang sama, kebijakan tersebut dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. “Indonesia tidak membutuhkan bank sentral yang sekadar mengikuti arah angin politik, melainkan lembaga independen yang mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah kencangnya badai global,” ujarnya.

Baca juga : Destry Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Ia mengibaratkan kebijakan ekonomi seperti pengemudi yang harus mampu menentukan kapan mempercepat dan kapan mengerem. “Pengemudi yang baik bukanlah yang selalu menginjak pedal gas, melainkan yang tahu kapan harus memacu kecepatan, kapan harus menginjak rem, dan yang paling utama, tidak pernah kehilangan arah tujuan,” kata Handi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense