RM.id Rakyat Merdeka - Jejak kelahiran industri minyak bumi di Indonesia tak lepas dari keberadaan Sumur Minyak Telaga Tunggal 1 di Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). Dari sinilah kegiatan perminyakan komersial Indonesia bermula, yang kemudian menjadi cikal bakal perjalanan panjang wilayah operasi PT Pertamina EP (PEP) Pangkalan Susu Field tetap beroperasi sampai saat ini.
Sejarahnya bermula pada 1880, ketika Aeilko Jans Zijker, ahli perkebunan tembakau dari Deli Tobacco Maatschappij, mulai mencari sumber minyak bumi di wilayah tersebut.
Lima tahun kemudian, tepatnya 15 Juli 1885, Zijker melakukan pengeboran di Telaga Tunggal dan berhasil memperoleh minyak bumi sebanyak 200 liter per hari. Keberhasilan itu kemudian mendorong Zijker mendirikan perusahaan minyak Sumatra Petroleum Maatschappij (SPM).
Pada 1890, SPM bergabung dengan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), perusahaan minyak milik Belanda yang kemudian menjadi Royal Dutch Shell.
Sumur minyak Telaga Tunggal terus berproduksi hingga 1919.
Lalu, ketika BPM menemukan sumur minyak baru yang lebih besar di Pangkalan Brandan, sumur minyak Telaga Tunggal ditutup dan ditinggalkan.
Berada di tengah rimbunan pohon sawit, sumur itu masih berdiri tegak sebagai saksi bisu penemuan minyak pertama di Indonesia. Yang kini ditetapkan sebagai cagar budaya Kabupaten Langkat.
Baca juga : Purbaya Bidik Pajak Ekspor Perhiasan
Sejarah mencatat perbedaan nasib antara dua ladang minyak tertua Indonesia. Pangkalan Brandan yang dikenal sebagai kilang minyak pertama di Indonesia resmi berhenti beroperasi pada 8 Maret 2007, lantaran cadangan minyak dan gas di sekitarnya telah habis. Sementara, Pangkalan Susu yang dikenal sebagai pusat produksi sekaligus pelabuhan pengekspor minyak mentah pertama Indonesia sejak 1958, tetap berdiri dan terus mengalirkan energi hingga hari ini.
Jauh sebelum menjadi kawasan operasi minyak dan gas bumi, Pangkalan Susu telah memiliki sejarah panjang. Berakar dari Kesultanan Melayu di pesisir timur Sumatera Utara pada abad ke-18 hingga ke-19, kawasan ini berkembang menjadi pusat perdagangan dengan dermaga yang ramai. Kapal-kapal saudagar dari berbagai negeri. Bahkan harus merapat di kawasan hutan bakau karena pelabuhan tak lagi mampu menampung aktivitas perdagangan.
Tempat kapal-kapal itu berlabuh kemudian dikenal dengan nama Pangkalan Susu.
Seiring perkembangan industri minyak bumi, kawasan ini kemudian menjadi salah satu lapangan minyak dan gas bumi bersejarah di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
PT Pertamina EP (PEP) Pangkalan Susu Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1, telah beroperasi sejak era kolonial dan hingga kini tetap aktif memproduksi minyak dan gas bumi.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus menopang kebutuhan energi nasional, kegiatan eksplorasi dan pengeboran sumur baru terus dilakukan secara agresif.
“Nama Pangkalan Susu bukan daerah ini penghasil susu, melainkan karena berkaitan dengan sejarah pelabuhan kuno. Yang tidak banyak juga orang tahu mengapa disebut Pangkalan Susu,” jelas Field Manager Pertamina EP Pangkalan Susu Edwin Susanto dalam kunjungan Rakyat Merdeka di kawasan Edu Ekowisata Mangrove Gebang di Lokasi Desa Pasar Rawa, Langkat, Sumut, Selasa (12/8/2026).
Baca juga : Tarif Transportasi Warga Pulau Seribu Lebih Murah
Meski telah berusia lebih dari satu abad, PEP Pangkalan Susu Field mengelola enam lapangan aktif dengan total 25 sumur minyak produksi dan 19 sumur gas produksi.
Produksi lapangan sekitar 200 hingga 250 Barrel Oil Per Day (BOPD) untuk minyak mentah dan 3.229,7 Million Cubic Feet Per Day (MMCFD) untuk gas.
Wilayah kerja PEP Pangkalan Susu Field meliputi dua kabupaten di Sumut, yakni Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang dengan luas mencapai 14.211,74 kilometer (km).
Fasilitas produksi PEP Pangkalan Susu Field meliputi satu main gathering station, delapan stasiun pengumpul, satu rumah pompa dan satu loading station.
Meski begitu, diakui Edwin, untuk mengatasi tantangan pengelolaan lapangan migas tua, PEP Pangkalan Susu Field melakukan well intervention secara rutin pada beberapa sumur. Khususnya dalam mengatasi penurunan alami produksi minyak (natural decline).
Pihaknya juga rutin melakukan perawatan sumur untuk menjaga produksi sesuai target.
“Agar tidak menyusul nasib lapangan tua lain, Pertamina EP Pangkalan Susu terus berinovasi, melakukan survei seismik, pengeboran sumur baru di area yang sudah terbukti cadangannya,” kata Edwin.
Baca juga : Opta Jagokan Inter Pertahankan Scudetto
Salah satunya, PEP Pangkalan Susu Field melakukan pengeboran sumur baru secara agresif.
Tercatat pada 2024, perusahaan sudah menggali sumur baru di Securai A2, Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat.
Lalu, tahun 2025, PEP Pangkalan Susu Field menargetkan pengeboran lima sumur tambahan. Yakni dua sumur akan dibor di Pulau Panjang, Kabupaten Langkat lalu tiga sumur di Pantai Pakam Timur, Kabupaten Deli Serdang.
“Tahun depan direncanakan pengeboran tiga hingga lima sumur tambahan,” ungkap Edwin.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.