BREAKING NEWS
 

Jejak Sumur Minyak Telaga Tunggal

Lebih Seabad Menjaga Nyala Energi Indonesia

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Kamis, 20 Agustus 2026 06:40 WIB
Inilah Sumur Minyak Telaga Tunggal 1 di Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). (Foto: Dwi Ilhami/RM.id)

 Sebelumnya 
Upaya pengeboran sumber sumur baru itu pun sekaligus mematahkan stigma banyak pihak, terkait eksistensi PEP Pangkalan Susu sebagai kilang minyak yang sudah usang.

Diakuinya, sejak 1960-an sudah banyak pihak yang memprediksi aktivitas perminyakan di Pangkalan Susu akan segera berakhir. Namun, prediksi tersebut tak terbukti. Hingga kini, Pangkalan Susu masih beroperasi dan produksi minyaknya terus mengalir untuk menopang kebutuhan energi nasional.

“Ini bukan keajaiban, karena kami terus berusaha menemukan cadangan baru dan mengelola lapangan dengan efisien. Komitmen kami tetap menyediakan energi untuk negara, selama masih mampu mengalir,” tegasnya.

Di tangan Pertamina, lapangan tertua Indonesia ini membuktikan usia boleh tua, namun semangat menyangga energi bangsa tak pernah pudar.

Konservasi Mangrove Dan Pemberdayaan Masyarakat

Di tengah perjuangan PEP Pangkalan Susu yang mempertahankan produksi minyak bagi ketahanan energi nasional, perusahaan tak lantas mengabaikan keseimbangan ekosistem serta lingkungan di sekitar wilayah operasi.

Edwin menekankan keterikatan Pertamina dengan ekosistem hutan bakau yang membentang di sepanjang pesisir timur Sumatera.

Baca juga : Purbaya Bidik Pajak Ekspor Perhiasan

Hutan mangrove kini mengalami penurunan luas akibat eksploitasi berlebih oleh masyarakat untuk bahan bakar. Padahal, pohon bakau mampu menyerap karbon dan menghasilkan oksigen 4-7 kali lipat lebih besar dibanding hutan darat biasa.

Untuk itu PEP Pangkalan Susu mengajak masyarakat sekitar, khususnya di kawasan Pasar Rawa, untuk memulihkan hutan bakau, sekaligus mengembangkan ekowisata.

Selama tiga hingga empat tahun terakhir, hasilnya mulai terlihat. Kawasan yang dulu gundul kini mulai menghijau.

“Kami ingin memberi alternatif ekonomi agar masyarakat tidak lagi mengambil energi dari alam, melainkan ikut menjaganya,” ujarnya.

Gerakan menghijaukan hutan bakau terus berlanjut. Pada 2025, Kelompok Tani Hutan Maju Bersama telah menanam 4.000 bibit mangrove. Konsistensi dalam menjaga dan mengembangkan kawasan tersebut turut mengantarkan kelompok itu meraih Juara III Wana Lestari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Edu Ekowisata Mangrove ini juga melibatkan kelompok rentan, yakni perempuan penyintas Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), yang total mencapai 40-50 orang.

Baca juga : Tarif Transportasi Warga Pulau Seribu Lebih Murah

Sekaligus mendorong tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDG’s), terutama poin 13 penanganan perubahan iklim, poin 14 ekosistem laut dan poin 15 ekosistem darat.

Selanjutnya, PEP Pangkalan Susu Field juga menjalankan Program Penanganan dan Pencegahan Stunting. Dengan melakukan intervensi secara intensif selama tiga bulan terhadap 9 balita yang mengalami stunting.

Kemudian, menggelar pelatihan 40 kader dari delapan posyandu di Kecamatan Pangkalan Susu, edukasi anemia dan kesehatan produksi terhadap 770 siswi remaja putri.

Lalu, ada juga kelas ibu hamil untuk 34 orang di dua desa operasional.

Di kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Tani Penghijauan Maju di Pesisir Pasar Rawa Kasto Wahyudi menjelaskan, pendampingan yang diberikan PEP Pangkalan Susu Field telah berlangsung sejak 2022.

“Terima kasih Pertamina, karena telah membina kami. Mulai dari penanaman, pengembangan wisata, pelatihan, hingga pembangunan homestay,” ungkapnya.

Baca juga : Opta Jagokan Inter Pertahankan Scudetto

Kasto menuturkan, berkat pembinaan berkelanjutan, tahun ini kelompok tani tersebut mendapat penghargaan dan pembinaan KLHK dalam kategori Pembinaan Wisata Edukasi.

Dana pembinaan yang diterima, sebagian digunakan untuk pengadaan peralatan penunjang kegiatan.

“Tempat ini nantinya menjadi pusat edukasi lingkungan, dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, agar semakin banyak yang memahami pentingnya menjaga hutan bakau,” pungkasnya. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense