Sebelumnya
Selain itu, rencana paket stimulus AS tahap kedua juga masih mengalami deadlock, sehingga peluncurannya tertunda.
"Padahal, sentimen itu sangat dinantikan pasar untuk mendorong penguatan nilai tukar negara berkembang, termasuk rupiah. Karena akan melemahkan dolar AS," kata Ariston di Jakarta, Selasa (18/8).
Baca juga : Ridwan Kamil Tunggu Rp 2,6 Triliun Untuk Cegah Covid-19 Di Pesantren
Dari dalam negeri, rupiah masih mendapat tekanan, di antaranya jelang Pengumuman Neraca Dagang Periode Juli 2020 oleh Badan Pusat Statistik dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
Namun Ariston mengingatkan, neraca dagang dalam negeri periode Juli, menunjukkan tidak adanya peningkatan ekspor atau impor dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal itu bisa memberikan tekanan terhadap rupiah.
Baca juga : Anies: Kebijakan Ganjil Genap Pedagang Pasar Gagal
“Selain itu, konsensus pasar memprediksi tidak ada perubahan untuk suku bunga pada RDG kali ini. Tapi, kalau ada stimulus moneter baru dari BI, itu bisa membantu mendukung pemulihan ekonomi. Mendukung penguatan rupiah,” papar Ariston.
Sepanjang pekan ini, rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp 14.550-14.900 per dolar AS. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.