RM.id Rakyat Merdeka - Pebisnis hotel memandang bisnis Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSPJ) melakukan penawaran layanan isolasi mandiri untuk pasien Covid-19 tanpa gejala di hotel, sebagai hal yang lumrah.
“HAL itu wajar saja. Malah memberikan nafas untuk perhotelan. Sejauh ini, data di saya ada 20 lebih hotel bintang 2 dan 3 yang bersedia menerima atau melayani OTG,” ungkap Ketua Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Jakarta, Krishnadi kepada Rakyat Merdeka.
Untuk hotel bintang lima, Krishnadi mengaku, belum memiliki datanya. Pendapat itu disampaikan Krishnadi menyikapi flyer di media sosial tentang layanan isolasi di hotel.
Di flyer itu tertera logo RSPJ, Pertamedika (Pertamina Bina Medika), dan Indonesia Healthcare Corporation (IHC) yang isinya mempromosikan Stay Isolation di hotel.
Dalam flyer tersebut, memuat ilustrasi/gambar fasilitas layanan itu. Layanan layaknya hotel bintang terdapat kulkas mini, teko listrik, dan toilet.
Baca juga : Serahkan Bahan Soal Djoko Tjandra Cs, MAKI Minta KPK Lakukan Ini...
Tak hanya itu, dalam flyer itu juga tertera tarif layanan. Untuk biaya inap per malamnya Rp 1.500.000. Itu belum termasuk obat dan vitamin serta bahan medis habis pakai.
Untuk biaya visit dokter untuk umum Rp 300 ribu, dan spesialis Rp 350 ribu. Dikonfirmasi soal itu, Pengawas humas RSPJ Reza kaget dengan beredarnya flyer itu. Dia menyesalkan, flyer tersebut telah beredar di masyarakat.
“Sebenarnya ini (flyer) belum final. Masih harus direvisi,” akunya singkat kepada Rakyat Merdeka. Dia bilang, saat ini pihaknya tengah mematangkan rencana kerja sama dengan sejumlah hotel. Saat ini baru ada satu hotel yang bekerja sama dengan RSPJ.
“Ke depannya ada beberapa hotel yang sedang kami proses,” ujarnya, tanpa menyebutkan nama hotel yang telah digandeng RSPJ tersebut.
Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade juga menilai langkah perusahaan pelat merah itu sebagai hal yang wajar. Memang sudah seharusnya berinovasi agar bisa bertahan di tengah Pandemi Covid-19 ini.
Baca juga : Makin Agresif, Pertamina Gandeng Alfamart Kembangkan Bright Store
Menurutnya, bisnis pariwisata adalah sektor usaha paling terdampak pandemi Corona. Banyak yang pendapatannya anjlok, hingga bahkan tutup operasional.
“Daripada terus terpuruk, tidak ada salahnya kalau menjadikan kamar-kamar hotel itu sebagai ruang isolasi mandiri bagi pasien atau suspect Corona,” katanya.
Ia menilai, ketersediaan kamar hotel sebagai tempat isolasi mandiri cukup dibutuhkan. Khususnya, bagi orang-orang yang kerap bepergian ke luar kota ataupun dinas. “Contoh, orang dari luar kota, kemudian sampai di bandara, mereka tes swab.
Sambil menunggu hasilnya, sebaiknya isolasi mandiri di hotel. Daripada di rumah, ada anak ada keluarga, kan bisa saling jaga,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai, perlu ada aturan main, intervensi dari pemerintah mengenai biaya kesehatan yang ditanggung masyarakat atas tawaran isolasi tersebut.
Baca juga : Ini 5 Hal Berbeda Dalam Sidang Tahunan MPR 2020
“Fenomenanya kan kapasitas rumah sakit terbatas. Jangan sampai, ruang isolasi di hotelhotel ini malah dikomersialkan,” imbaunya.
Ia menerangkan, pemerintah tetap harus bertanggung jawab dalam menyediakan fasilitas kesehatan, baik untuk orang mampu maupun tidak.
Karenanya, perlu diatur tarif layanan kesehatan penderita Covid-19. “Jangan dilepas ke mekanisme pasar begitu saja. Nanti, jadinya seperti tes swab, mahal,” cetus Tulus. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.