BREAKING NEWS
 

RUU Cipta Kerja Jadi Salah Satu Cara Tarik Investasi Berorientasi Ekspor

Reporter : MERRY APRIYANI
Editor : WAHYU SURYANI
Selasa, 29 September 2020 13:26 WIB
Ekonom Berly Martawardaya/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekspor manufaktur Indonesia termasuk salah satu yang terendah di Asia. Menurut Ekonom Universitas Indonesia (UI) Berly Martawardaya, hal itu yang kemudian mendorong Presiden Jokowi mencanangkan transformasi ekonomi untuk memprioritaskan investasi yang berorientasi ekspor.

“Negara-negara seperti Korea, Malaysia, Taiwan dan Thailand ekonominya bergerak maju karena banyak investasi di sektor manufaktur. Ekspor manufaktur Indonesia paling rendah,” jelas Berly.

Dia menjelaskan, masalah rendahnya presentase investasi berorientasi ekspor di Indonesia sudah lama berlangsung. Hal itu turun sejak tahun 2000. Padahal Indonesia belum termasuk negara kaya seperti Jepang atau Korea yang beralih dari sektor manufaktur ke sektor jasa.

Baca juga : RUU Cipta Kerja Diharapkan Bisa Atasi Tumpang Tindih Regulasi

Berly juga membeberkan peringkat kemudahan buka usaha di Indonesia yang terbenam di peringkat 144. Untuk itu, undang-undang yang ingin meningkatkan investasi sudah seharusnya bisa mengatasi persolan.

“Ada 18 prosedur dari pusat dan pemda untuk buka usaha di Indonesia. Itu termasuk paling sulit. Kemudian perlu 200 hari untuk dapat izin membuat usaha. Itu paling lama dibanding negara lain,” tambah Berly.

Adsense

Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini mengatakan, untuk mengubah semua peraturan yang menghambat itu membutuhkan waktu yang lama. 

Baca juga : Pengamat: RUU Cipta Kerja Bisa Jadi Penyelamat Ekonomi Dari Resesi

“Tapi nyatanya, mengubah satu undang-undang saja bisa memakan waktu 1 sampai 2 tahun di DPR,” katanya.

Menurut Berly, kemunculan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja berangkat dari beberapa masalah. Di antaranya, banyak peraturan yang tumpang tindih, akibatnya tidak ada kepastian dan menghambat dunia usaha. Oleh karenanya, banyak peraturan yang perlu diubah supaya sinkron.  

“Pertumbuhan ekonomi dan investasi rendah, yang kita butuhkan adalah sektor manufaktur berorientasi ekspor. RUU Cipta Kerja ini justru mendorong investasi berbasis sumber daya alam,” tambah Berly.

Baca juga : Erick Pede Kalahkan Daya Tarik Investasi Di Vietnam

Dia juga menilai perlunya RUU Cipta Kerja diikuti perbaikan sektor kesehatan, kualitas tenaga kerja dan infrastruktur. Itu akan ampuh menarik investor asing khususnya di sektor manufaktur yang berorientasi ekspor.

Berly berharap, adanya RUU Cipta Kerja tidak mengorbankan kawasan desa (hutan dan sumber daya alam) untuk kesejahteraan masyarakat kota. Jika mengabaikan lingkungan, kerugian ekonominya tinggi. [MER]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense