Sebelumnya
Sementara dari sisi sektornya, tahun ini dipiloting sekitar 10-15 persen di sektor produktif. Di mana tahun lalu juga sektor produktif nilainya masih kecil. "LPDB diarahkan Menteri Koperasi dan UKM porsi sektor riil piloting 10-15 persen. Ini bukan target, tapi piloting. Karena rata-rata kelembagaannya masih perlu pendampingan," jelasnya.
Selain itu, pola bisnisnya pun masih banyak yang melakukan perorangan, dan bargaining powernya masih kurang. Sehingga perlunya mendorong koperasi sektor riil yang sudah ada untuk melakukan inkubasi.
"Di triwulan I-2021 ini sebanyak 85 persennya KSP dan sekitar 15 persen di sektor produktif seperti pengolahan susu, holtikultura, tahu dan tempe. KSP sebenarnya banyam juga yang produktif, meski banyak juga yang perdagangan. Terbesar masih di Jawa Tengah, karena jumlah koperasi nya banyak," sebutnya.
Sejak awal penyaluran di 2008 hingga akhir April 2021, LPDB-KUMKM telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp 12,9 triliun, yang terbagi menjadi dua skema penyaluran yakni pola konvensional sebesar Rp 10 triliun, dan dengan pola syariah sebesar Rp 2,9 triliun.
Baca juga : Per Maret 2021, Jasindo Sudah Salurin Bantuan Rp 300 Jutaan
Support KUMKM Di Tengah Pandemi
Pandemi Covid-19 memukul banyak sektor industri. Bukan hanya industri besar yang terdampak, namun juga usaha skala menengah, mikro, dan kecil.
Terkait hal ini, LPDB-KUMKM mengupayakan semaksimal mungkin agar pelaku usaha khususnya UMKM dapat mampu bertahan melewati masa-masa sulit akibat pandemi Covid-19.
“Dengan melibatkan pedagang-pedagang kecil dan PKL, serta membeli produk-produk mereka, merupakan langkah kami dalam membantu UMKM," jelasnya.
Baca juga : Kuartal I 2021, KY Rekomendasikan Sanksi Terhadap 48 Hakim
Supomo menjelaskan, Menteri Teten terus berpesan, agar Kementerian dan Lembaga (K/L) memberi ruang dan peluang seluas-luasnya kepada UMKM dalam memasarkan dan memajukan usahanya, terutama berbelanja produk-produk UMKM.
Selain itu, 40 persen anggaran belanja K/L juga diharapkan dapat membeli dan menyerap produk-produk UMKM sehingga membuka peluang pasar yang lebih besar untuk UMKM. “Menkop UKM terus mendorong agar produk-produk UMKM bisa go export dan go global. Melalui bentuk pendampingan, perkuatan permodalan, hingga pemasaran melalui offline maupun online (digital market platform)," imbuhnya.
Selain itu, melalui Permenkop 04 Tahun 2020, LPDB-KUMKM diberikan amanat bukan hanya menyalurkan dana bergulir saja, namun melakukan pendampingan kepada calon mitra atau mitra yang sudah existing.
Untuk melakukan pendampingan, di tahun 2021 ini LPDB- KUMKM telah memilih Di antaranya, Badan Inovasi dan Inkubator Wirausaha Universitas Brawijaya (BIIW) Jawa Timur, Inkubator Bisnis LPPM Universitas Udayana Bali, Siger Innovation Hub Lampung.
Baca juga : Jelang Lebaran, BTN Siapkan Dana Rp 13,4 Triliun
Selain itu Pusat Inkubator Bisnis Universitas Ottow Geissler Papua, Cubic Inkubator Bisnis Jawa Barat, Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi Universitas Airlangga Jawa Timur, Pusat Inkubator Bisnis-Oorange Universitas Padjajaran Jawa Barat, dan Pusat Pengembangan Inovasi dan Inkubator Bisnis Teknologi Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat.
Program ini bertujuan untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19 dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Dengan menginkubasi pelaku usaha khususnya KUMKM. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.