RM.id Rakyat Merdeka - Investor saham PT Bukalapak Tbk atau BUKA sedang dag-dig- dug. Sebab, saham start up tersebut nyungsep di posisi paling buncit alias Auto Reject Bawah (ARB) dari sebelumnya nangkring di level atas.
Perdagangan saham BUKA pada Selasa (10/8), menyentuh ARB, dengan pelemahan 6,76 persen di level Rp 1.035 per saham. Akibat ARB ini, nilai transaksi saham Bukalapak mencapai Rp 1,03 triliun dengan volume 974 juta saham. Sementara nilai kapitalisasi pasar tergerus menjadi Rp 106,67 triliun. Penurunan harga saham BUKA ini membuat sebagian investor merasa rugi.
Menurut Analis sekaligus Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee, koreksi terhadap suatu saham itu adalah hal yang wajar. Sehingga apa yang terjadi dengan saham BUKA bukan suatu masalah besar. Pasalnya, nilai ARB-nya pun masih masih tergolong minim, mengingat di awal Initial Public Offering (IPO) BUKA jumlah sahamnya yang oversubscribe.
Baca juga : Dolar Nyungsep, Rupiah Makin Perkasa
“Valuasi cukup tinggi di awal IPO. Jadi kemungkinan besar investor mengambil profit taking di awal perdagangan Selasa (10/8),” terang Hans kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Untuk diketahui, saat memulai perdagangan perdananya, Jumat (6/8), saham BUKA yang dilego di harga Rp 850 per saham, melesat ke level Auto Reject Atas (ARA) di level Rp 1.060. Begitu pun di hari berikutnya, Senin (9/8), BUKA sempat menyentuh ARA di posisi Rp 1.325, meski ditutup di level Rp 1.110. Saat itu nilai transaksi saham Bukalapak mampu menembus angka Rp 4,46 triliun, tertinggi di antara emiten lainnya.
Namun Selasa, (10/8), saham BUKA anjlok hingga menyentuh ARB 6,78 persen, yakni turun ke level Rp 1.035 per saham. “Biasanya kalau sudah ada yang keluar (jual rugi), orang sudah takut lagi (untuk membeli),” jelas Hans.
Baca juga : Lark Diklaim Bisa Tingkatkan Ekosistem Startup Di Indonesia
Lebih lanjut Hans melihat, saham Bukalapak kemungkinan masih akan fluktuasi. Artinya, ada kemungkinan sehari dua hari ke depan BUKA tetap nangkring di ARB.
“Level batas Auto Reject Atas (ARA) 25 persen. Beberapa hari ARB dahulu, baru kemudian bisa naik lagi. Kira-kira bisa berada di rentang Rp 900-1.100 per saham,” sebutnya.
Menurut Hans, e-commerce dan startup lainnya sedang mempelajari IPO BUKA dalam memperoleh dana dari pasar saham. Artinya, mereka semua sedang wait and see.
Baca juga : Bank Mandiri Genjot Beli Rumah Online Di Bukalapak
Dia lalu membeberkan, secara umum aset Bukalapak cuma Rp 1,7 triliun, tapi IPO valuasi mencapai Rp 21,9 triliun, dengan 25 persen kepemilikan perusahaan. Hal ini, sambungnya, menunjukkan bahwa perdagangan saham Bukalapak ini sangat premium.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.