Makanan berperan penting pada aktivitas makhluk hidup sehingga makanan menjadi objek pasar yang menggiurkan bagi pelaku industri, baik berupa manufaktur maupun siap-makan. Ketika produk makanan telah berada di tingkat ritel dan konsumen, produk-produk tersebut tidak sepenuhnya habis dikonsumsi sehingga berakhir sebagai food waste (bahasa Indonesia: sampah makanan). Kondisi ini menjadi sesuatu yang krusial untuk dibahas. Merujuk pada laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 2013, massa sampah makanan global diperkirakan sebesar 1,6 miliar ton. The Economist Impact (2021) mencatatkan, Indonesia menduduki urutan ke-8 untuk jumlah sampah makanan per kapita per tahun di antara negara-negara G20 dengan rata-rata massa sampah makanan sebesar 115–184 kilogram setiap tahunnya. Angka tersebut memiliki persentase terbesar—40,1 persen—pada komposisi sampah di Indonesia (KLHK, 2021).
Total Sampah Makanan Negara-negara G20 (Sumber: The Economist Impact, 2021)
Berdasarkan data dari United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), sampah makanan global menduduki peringkat ketiga dalam menyumbang gas rumah kaca (GRK)—sebanyak 3,3 ton gas karbondioksida. Angka sampah makanan juga mengindikasikan jumlah air biru yang terbuang percuma. Air biru diartikan sebagai air irigasi yang bersumber dari permukaan atau bawah tanah. Seiring berjalannya waktu, penggunaan air ini mengakibatkan berbagai masalah lingkungan, seperti penggaraman, penipisan air tanah, dan penurunan permukaan tanah. Oleh karena itu, penggunaan air ini perlu diperhatikan pada aktivitas pertanian. Akumulasi tingkat konsumsi air biru pada sampah makanan global memiliki nilai yang lebih tinggi daripada semua negara di dunia berdasarkan pengukuran oleh Water Footprint Network pada tahun 2011.
Baca juga : Din Apresiasi Kedekatan Dudung Dengan Rakyat Dan Ulama
Total Emisi GRK Global (Sumber: FAO, 2013)
Dampak sampah makanan juga dapat dilihat dari aspek ekonomi. Pada tahun 2007, total biaya produksi sampah makanan global adalah sekitar 750 miliar dolar—sebanding dengan nilai produk domestik bruto (PDB) Turki pada tahun 2011. Indonesia sendiri mengalami kerugian ekonomi akibat sampah makanan sebesar Rp 213–551 triliun/tahun selama periode 2000–2019. Nilai tersebut setara dengan 4–5 persen PDB Indonesia setiap tahun (PPN/Bappenas, 2021). Sampah makanan di Indonesia didominasi oleh makanan pokok, seperti beras; jagung; gandum; dan sejenisnya, sehingga berkontribusi terhadap kehilangan kandungan energi untuk 61–125 juta jiwa setiap tahun. Hal tersebut menjurus kepada tingkat stunting yang sangat tinggi—sebesar 30,8 persen.
Bentuk konkret dari dampak food waste menjadi ‘alarm’ bagi seluruh lapisan masyarakat dan instansi terkait untuk memulai penanggulangan masalah ini. Penanggulangan tersebut dapat dikemas dalam sebuah program bernama Rangkiang (singkatan untuk Gerakan Mengurangi Konsumsi Terbuang). Program ini diberi nama setelah rangkiang, sebuah lumbung yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau untuk menyimpan hasil panen padi dan dibangun di halaman rumah gadang. Rangkiang memberikan filosofi yang patut dijiwai oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, yakni memajukan kehidupan bersama melalui pangan sepanjang variasi kondisi. Filosofi tersebut tidak hanya beresensi pada seorang pemilik rumah gadang saja, melainkan juga masyarakat di sekitarnya. Filosofi ini diperjelas melalui pembagian rangkiang beserta fungsinya, yakni
Baca juga : Lemahnya Sosialisasi Jadi Penghambat Percepatan Sertifikasi Halal
Rangkiang (Sumber: Leiden University, 1935)
si tinjau lauik untuk padi yang menjadi alat transaksi
si bayau-bayau untuk padi yang menjadi bahan konsumsi
si tangguang lapa untuk padi yang dimanfaatkan pada musim paceklik
kaciak untuk padi yang dimanfaatkan sebagai benih
Gerakan ini terinspirasi oleh St. Mary's Food Bank, bank makanan pertama di dunia yang berdiri di Amerika Serikat pada tahun 1967. Bank makanan ini didirikan oleh John van Hengel karena mendengarkan kisah seorang ibu yang bergantung pada makanan terbuang di tempat sampah toko grosir untuk memberi makan anak-anaknya. Melalui Rangkiang, konsep yang diusung oleh bank makanan ini dikembangkan dengan ruang lingkup yang lebih luas dan dampak yang berganda. Rangkiang tidak hanya menjadi bank makanan, melainkan juga menjadi sarana untuk mengedukasi masyarakat, menyediakan kebutuhan pertanian/peternakan yang terjangkau, dan mengimprovisasi kualitas lingkungan; ekonomi; dan sosial.
Mekanisme kerja yang dilakukan melalui Rangkiang terbagi menjadi dua, yakni sosialisasi dan praktik nyata. Pada gerakan ini, sosialisasi dilakukan dengan bentuk penyampaian edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat terkait manajemen makanan. Adapun bentuk-bentuk edukasi yang disampaikan adalah
skala prioritas dalam membeli makanan,
kiat penyimpanan stok makanan,
pengaturan jumlah konsumsi makanan,
penyediaan data aktual tentang food wasting, dan
kiat-kiat terhadap makanan sisa.
Rangkiang, sebagai program yang lahir pada era modern, mensinergikan sarana daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan) pada proses sosialisasi sehingga mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas dan tepat. Melalui sarana daring, Rangkiang mengintegrasikan media sosial untuk penyampaian informasi yang efektif kepada masyarakat. Rangkiang juga turut mengundang pakar-pakar terkait pada sesi diskusi melalui Instagram Live dan YouTube Live. Melalui sarana luring, petugas Rangkiang rutin mendatangi pemukiman untuk mengedukasi tentang manajemen makanan dan menjalin kerja sama dengan pemerintah desa/kelurahan setempat untuk menyediakan pos donasi makanan sisa.
Bersamaan dengan sosialisasi, Rangkiang juga menjalankan praktik nyata yang berfokus pada pemanfaatan kembali makanan sebelum dibuang. Praktik nyata dijalankan melalui tahapan-tahapan berikut:
Sistematika Praktik Nyata (Sumber: Penulis)
Observation: Peninjauan kondisi aktual dan analisis tren food waste. Tahap ini melibatkan (a) pendataan di tempat pembuangan sampah, rumah tangga, unit usaha kuliner, dan event organizer; (b) pendataan aksesibilitas terhadap makanan bagi masyarakat prasejahtera dan panti asuhan, pakan bagi peternak kelas menengah ke bawah, dan pupuk bagi petani kelas menengah ke bawah; dan (c) pendataan lanjutan melalui kerja sama dengan instansi terkait.
Registration: Kesempatan bagi masyarakat umum, unit usaha kuliner, dan event organizer untuk berpartisipasi sebagai relawan, donatur makanan sisa, dan rekan sponsor.
Donator Assessment: Penilaian tentang kondisi fisik tempat donatur, rangkaian produksi, serta kualitas dan kualitas produk.
Pick-up: Penjemputan harian makanan sisa dari para donatur.
Quality Checking: Proses pemeriksaan kandungan dan keamanan makanan sesuai standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang akan dibedakan berdasarkan peruntukannya; manusia, hewan, tumbuhan, dan larangan konsumsi (langsung dibuang).
Manufacture: Proses konversi sebagian makanan menjadi pakan ternak dan pupuk tanaman oleh perguruan tinggi sesuai standar Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Setelah itu, produk akan didonasikan kepada petani dan peternak terpilih.
Distinguishing: Makanan yang memiliki tingkat keawetan rendah langsung menuju tahap berikutnya. Sebaliknya akan menuju ruang penyimpanan untuk dimanfaatkan di kemudian hari atau kondisi genting, seperti bencana alam.
Delivering: Paket makanan siap diantar kepada masyarakat prasejahtera dan panti asuhan.
Food waste adalah fenomena krusial yang membutuhkan gerakan konkrit dari semua khalayak. Fenomena ini tidak hanya sebatas makanan sisa yang teronggok tanpa arti, melainkan juga merugikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Dilatarbelakangi oleh masalah ini dan diinspirasi oleh filosofi lumbung padi Minangkabau, Rangkiang menjadi inovasi untuk mengimprovisasi manajemen makanan secara berkelanjutan. Manajemen tersebut memerlukan pengetahuan dan kemampuan masyarakat yang mumpuni dalam memaksimalkan pemanfaatan makanan hingga terwujudnya pemerataan aksesibilitas terhadap makanan dan improvisasi kualitas lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.