Sebelumnya
Diingatkannya, kesiapan dan respons cepat jajaran Polri di wilayah bencana merupakan bentuk representasi hadirnya negara di tengah masyarakat.
“Ini harus dilakukan dan dipersiapkan, khususnya di wilayah yang memang rentan terjadi bencana. Tolong dicek begitu ada peristiwa bagaimana rekan-rekan simulasi, melatih secepatnya bisa datang dan SOP yang disiapkan dan apa saja yang kita lakukan,” imbau Sigit.
Sigit juga mengingatkan, personel kepolisian harus mampu berperan baik sebelum terjadinya bencana, ketika terjadi, dan setelah bencana terjadi.
Ketika masa tanggap darurat, Polri harus menyiapkan personel terbaiknya untuk melakukan penyelamatan, evakuasi, identifikasi melalui DVI, membuat tenda darurat, dapur lapangan hingga menyiapkan sarana dan prasarana penunjang.
Baca juga : Di Rakornas BNPB, Kapolri Bicara Langkah Konkret Manajemen Risiko Bencana
Kemudian, sambung Sigit, pasca bencana, jajaran Polri harus menyiapkan langkah konkret. Seperti psikologi sosial, trauma healing, layanan kesehatan dan menggelar patroli di wilayah tersebut.
Untuk tahap pra bencana atau sebelum kejadian, Sigit mengatakan, harus dilakukan upaya edukasi.
Edukasi bisa dilakukan melalui konten video, bekerja sama dengan media, dan penguatan peran Bhabinkamtibmas untuk menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat.
Sigit juga menuturkan, pihaknya bersama stakeholder terkait juga harus memanfaatkan perkembangan teknologi informasi (TI).
Baca juga : Kader Hanura Rapatkan Barisan, Bahas Strategi Pemenangan Pemilu 2024
Dalam hal ini, dikatakan Sigit, Polri telah membentuk 91 Command Center yang bisa diadopsi oleh seluruh Polda jajaran.
Untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan alias karhutla, aplikasi ASAP Digital Nasional terus dikembangkan.
Dalam aplikasi tersebut, memiliki CCTV Live Auto Monitoring yang bisa memonitor jarak 8 kilo, berputar 360 derajat, dan ada sensor, bisa menampilkan suhu udara.
“Kita bisa dapatkan update titik api selama lima menit. Yang paling penting, posisi pergerakan personel di lapangan bisa termonitor,” ungkap Sigit.
Baca juga : Ganjar Dorong Upaya Peningkatan Antisipasi Dan Penanggulangan Bencana Daerah
Sebelum mengakhiri pemaparannya, Sigit menegaskan, seluruh stakeholder harus memiliki kesamaan visi dan misi terkait menindaklanjuti instruksi Presiden Jokowi soal melakukan manajemen risiko bencana alam. Sigit pun melantunkan pantun untuk mengakhiri paparannya.
“Hujan gerimis tiada henti, paling enak minum cokelat. Mari bersinergi untuk melindungi, menghadirkan negara di tengah rakyat,” tutup Sigit. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.