Sebelumnya
Bagaimana dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap kebijakan kita ke depan?
Pertama, konflik di Timur Tengah itu pesannya jelas. Kita harus mengurangi ketergantungan pada komoditas energi. Kita perlu mandiri dalam energi agar krisis global bisa kita kendalikan. Indonesia berpeluang menjadi negara yang mandiri secara energi (energy sufficient), karena sumber daya kita cukup baik dari geothermal, tenaga surya, dan lainnya. Kemarin Presiden mendorong pengembangan solar panel 100 ribu hektar.
Bagaimana mekanisme pengembangannya?
Nanti lokasinya dibagi rata. Tiap desa bisa mengalokasikan 1,5 hektar. Kita punya sekitar 80 ribu desa. Jadi potensinya 120 ribu hektar atau 120 gigawatt. Artinya, setiap desa bisa memiliki sumber energi sendiri. Itu dahsyat.
Baca juga : Tes Calon Dubes, DPR Nggak Neko-neko
Apakah ini akan dijalankan lewat Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih?
Bisa. Salah satu modelnya memang melalui koperasi sebagai unit usaha. Kalau nanti ini sudah berjalan multiplier effect-nya besar sekali. Saat ini, subsidi energi kita BBM dan listrik mencapai 50 miliar dolar AS per tahun. Kita burning money, jadi kita gunakan uang sebesar itu untuk subsidi ke PLN, Pertamina, dan masyarakat. Sering menjadi pertanyaan, apakah masyarakat sadar soal subsidi itu? Tidak. Itulah yang disampaikan Presiden kemarin. Rakyat tidak merasa disubsidi. Padahal 50 miliar dolar AS itu besar sekali. Kalau uang itu dipakai bangun panel surya 100 ribu megawatt, kira-kira butuh dana 100 sampai 125 miliar dolar AS. Tapi dalam waktu sekitar dua tahun mungkin sudah bisa balik modal dari penghematan subsidi. Itu logika sederhananya seperti itu. Dan justru logika-logika seperti itulah yang mudah dipahami Presiden.
Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz. Apakah ini akan berdampak pada Indonesia?
Kalau Selat Hormuz, dampak terbesarnya itu ke China, ya. Kita sih kurang kena. Karena ekspor terbesar dari Timur Tengah itu kan ke China sekarang. Sedangkan Amerika sudah jadi net exporter (negara pengekspor minyak).
Baca juga : Mansur: Kami Harap Tidak Ada Penyalahgunaan Kuota
Bagaimana solusi untuk pasar ekspor kita yang terkendala akibat konflik global?
Kalau ada hambatan, kita bisa dorong ekspor ke pasar-pasar sesama ASEAN, juga ke negara-negara di selatan seperti Australia, Selandia Baru, yang jauh dari kawasan konflik. Itu memungkinkan kita tingkatkan ekspor ke sana. Kita juga harus punya market yang bisa jadi substitusi Amerika. Satu-satunya ya Uni Eropa.
Kenapa Uni Eropa?
Ya karena di Eropa itu ada 27 negara. Jumlah penduduknya besar sekitar 400 juta. Komoditas ekspor utama kita, seperti kelapa sawit, sepatu, garmen, itu demand-nya di sana juga tinggi. Jadi kita berharap Uni Eropa bisa jadi substitusi pasar kita. Di ASEAN tak bisa berharap banyak, karena produksinya sama aja. Produk kita mirip-mirip dengan Vietnam, Malaysia. Sementara Singapura kan cuma trader, dia nggak nyerap apa-apa. Jadi untuk jangka pendek, target kita Eropa. Walaupun “jangka pendek” di sana ya nggak pendek-pendek juga, karena perlu perjanjian dulu. Seluruh negara di Eropa itu yang berjumlah 27 itu harus meratifikasi. Saat ini perjanjian kerja sama dengan Uni Eropa (IEU CEPA) sedang berproses. Bayangkan dokumen perjanjian itu harus diterjemahkan ke dalam 27 bahasa dan ditelaah. Setelah selesai IEU CEPA ini bisa efektif.
Baca juga : Sepekan Di Pevek, Suhu Dingin Dan Tak Ada Malam
Kapan proses IEU CEPA selesai?
Pemerintah telah menetapkan peta jalan penyelesaian IEU CEPA. Dimulai Periode September 2025 hingga kuartal II 2026 untuk penyelesaian prosedur domestik di masing-masing negara. Selanjutnya penandatanganan IEU CEPA ditargetkan berlangsung antara kuartal II hingga kuartal III 2026. Implementaasi penuh IEU CEPA ditargetkan dapat dimulai pada 2027.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.