BREAKING NEWS
 

Antisipasi Dampak Perang AS-Israel Vs Iran, Menperin Perkuat Ketahanan Industri

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Kamis, 5 Maret 2026 15:30 WIB
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) terus mencermati eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, khususnya sektor energi, logistik internasional, serta rantai pasok bahan baku industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, konflik di kawasan Timur Tengah dapat memicu volatilitas harga energi global, gangguan jalur perdagangan internasional, serta peningkatan biaya logistik dan bahan baku industri. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak tidak langsung terhadap kinerja sektor industri manufaktur nasional.

“Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting. Setiap eskalasi konflik berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik sektor manufaktur,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/3).

Menurutnya, salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap sektor industri adalah potensi gangguan distribusi energi global. Kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut sehingga setiap gangguan di kawasan itu dapat memicu lonjakan harga energi internasional.

Dalam beberapa hari terakhir, eskalasi konflik juga menimbulkan kekhawatiran terhadap aktivitas pelayaran dan distribusi energi di kawasan tersebut. Ancaman keamanan maritim dan serangan militer menyebabkan lalu lintas kapal tanker menurun serta meningkatkan risiko bagi perusahaan pelayaran dan asuransi maritim.

Situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia akibat gangguan pasokan energi dari Timur Tengah dan meningkatnya risiko geopolitik di kawasan tersebut.

Agus menjelaskan, kenaikan harga energi global dapat berdampak langsung terhadap sektor industri manufaktur karena sebagian besar subsektor industri menggunakan energi sebagai komponen utama biaya produksi.

Baca juga : Ribuan WNI Terjebak Tak Bisa Pulang Ke Tanah Air

Industri seperti petrokimia, logam dasar, semen, pupuk, serta berbagai industri pengolahan lainnya dinilai sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi.

“Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu panjang, maka biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik. Hal ini dapat memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor,” ujarnya.

Selain faktor energi, konflik geopolitik juga berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan baku industri yang berasal dari pasar global. Sejumlah sektor yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor antara lain industri kimia, petrokimia, tekstil, logam, hingga industri makanan dan minuman.

Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan biaya pengadaan bahan baku sekaligus memperpanjang waktu pengiriman akibat perubahan jalur logistik internasional.

Agus menambahkan, gangguan jalur perdagangan global juga dapat memengaruhi kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia. Konflik geopolitik biasanya memicu volatilitas pasar global sehingga permintaan dari negara tujuan ekspor dapat mengalami fluktuasi.

Adsense

“Perkembangan situasi geopolitik global tentu perlu kita antisipasi bersama. Kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia selama ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi global dan permintaan pasar internasional,” katanya.

Meski demikian, Agus menegaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif guna menjaga ketahanan sektor industri nasional. Strategi tersebut antara lain memperkuat struktur industri hulu, meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta memperluas diversifikasi pasar ekspor.

Baca juga : Ichsan Marsha: Perlindungan WNI Kewenangan Kemenlu

“Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan efisiensi energi di sektor industri serta percepatan transformasi menuju industri hijau untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang sangat dipengaruhi dinamika geopolitik global.

Agus optimistis industri manufaktur nasional memiliki ketahanan yang cukup kuat dalam menghadapi berbagai tantangan global. Hal ini didukung oleh struktur industri yang semakin terdiversifikasi serta kontribusi sektor manufaktur yang tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

“Kemenperin akan terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, asosiasi, dan kementerian/lembaga terkait, guna memastikan sektor industri manufaktur nasional tetap mampu tumbuh dan berdaya saing di tengah dinamika ekonomi global,” kata Agus.

Dukung Program Prioritas Presiden

Agus juga menegaskan pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, program swasembada pangan dan energi tidak hanya berkaitan dengan sektor pertanian dan energi, tetapi juga membutuhkan dukungan kuat dari sektor industri manufaktur.

Industri pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), industri pengolahan pangan, serta industri kemasan menjadi bagian penting dari ekosistem industri yang mendukung produktivitas sektor pertanian.

Baca juga : Mustolih Siradj: Kemenhaj Harus Jamin Keselamatan Jemaah

Selain itu, sektor industri juga berperan strategis dalam pengembangan energi baru dan terbarukan, produksi komponen pembangkit listrik, pengembangan kendaraan listrik, hingga industri petrokimia yang menjadi bagian penting dari rantai pasok energi nasional.

“Kemenperin terus mendorong penguatan industri hulu dan hilir agar Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan strategis nasional, termasuk di bidang pangan dan energi. Dengan struktur industri yang semakin kuat, Indonesia akan memiliki daya tahan lebih baik terhadap gejolak ekonomi global akibat konflik geopolitik,” ujar Agus.

Ia menambahkan, pemerintah juga terus memperkuat kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) serta pengembangan rantai pasok industri domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku dan meningkatkan nilai tambah industri nasional.

“Kami optimistis dengan penguatan struktur industri nasional serta dukungan terhadap program ketahanan pangan dan energi, sektor industri manufaktur Indonesia akan tetap mampu tumbuh dan berdaya saing meskipun menghadapi berbagai tantangan global,” pungkas Agus.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense